Menarikan Kolosal Tari Babalu, Mengapresiasi Khazanah Budaya Lokal

Menarikan Kolosal Tari Babalu, Mengapresiasi Khazanah Budaya Lokal
DOK. ISTIMEWA PENTAS KOLOSAL - Ratusan siswa SMAN 1 Wonotunggal saat mementaskan Tari Babalu secara kolosal, baru-baru ini.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Tari Babalu memang telah ditetapkan sebagai tarian khas Kabupaten Batang. Namun demikian, ikhtiar mengapresiasi dan melestarikan produk budaya daerah ini tetap harus dirawat, terutama generasi muda Batang.

Semangat tersebut seolah mendapat harapan saat anak-anak SMAN 1 Wonotunggal sukses memperagakan Tari Babalu secara kolosal di lingkungan sekolah setempat, baru-baru ini. Lewat pentas ini, para siswa tidak hanya sedang memperlihatkan pertunjukkan, lebih dari itu juga ada apresiasi dan kebanggaan atas produk seni warisan leluhur.

Dalam balutan busana khas tradisional Batang, para siswa menampilkan gerak ritmis yang penuh makna. Iringan musik tradisional yang menggema menambah suasana magis, membuat penari larut dalam keindahan seni yang sesungguhnya merupakan identitas bangsa. Nayla Arma Nabila, salah satu pementas Tari Babalu kolosal, mengaku bangga bisa ikut ambil bagian dalam pertunjukan ini.

Baca Juga:BPS Dorong Pemahaman Data ke Mitra: Kunci Akurasi & Kebijakan Daerah Tepat Sasaran!Peringati Hari Jadi ke-77, Polwan Polres Pekalongan Kota Ziarah ke TMP dan Gelar Gaktibplin!

“Awalnya agak sulit mempelajari gerakannya, tapi setelah berlatih bersama teman-teman, kami justru merasa semakin kompak. Rasanya bangga sekali bisa ikut melestarikan budaya daerah,” tuturnya. Apresiasi pun disampaikan Plt Kepala SMA Negeri 1 Wonotunggal, Aris Sugiharto, atas inisiatif dan gairah anak-anak didiknya beserta para guru mempersembahkan Tari Babalu secara kolosal.

Aris menyebut kegiatan ini lebih dari sekadar pertunjukan seni, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya bangsa yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda. “Saya sangat bangga dengan semangat siswa kami yang begitu antusias mengikuti tari kolosal Babalu ini.

Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar nilai dan mencintai budaya sendiri.” Katanya saat ditemui di SMAN 1 Wonotunggal, Jumat pekan kemarin, 22 Agustus 2025. Tak ingin berhenti hanya di pertunjukan, Aris berharap pentas Tari Babalu ini menjadi tonggak bagi generasi muda untuk semakin mencintai dan menjaga warisan budaya.

SARAT NILAI PERJUANGAN Di luar pola geraknya yang indah dan ritmis, Tari Babalu ternyata menyimpan nilai dan semangat perjuangan. Salah satu pendidik sekaligus pemerhati budaya Batang, Ahmad Zainuri, menyebut Tari Babalu telah muncul sekitar tahun 1930an pada saat terjadi perlawanan terhadap Belanda.

0 Komentar