Kreatif! Santri Camp Madrasah Budaya Pungkuran Kendal Latih Kemandirian Santri Lewat Masak Pizza

Kreatif! Santri Camp Madrasah Budaya Pungkuran Kendal Latih Kemandirian Santri Lewat Masak Pizza
ABDUL GHOFUR ANTUSIAS - Santri Madrasah Budaya Pungkuran tampak antusias saat praktik membuat pizza pada kegiatan Santri Camp, yang dirancang untuk melatih kemandirian, kreativitas, dan kerja sama, Minggu (4/1/2026)
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Mengisi masa libur dengan kegiatan bermanfaat, puluhan anak-anak di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, mengikuti program “Santri Camp” yang digelar oleh Madrasah Budaya Pungkuran. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menyasar para santri laju—sebutan bagi santri yang belajar di pesantren tanpa menetap atau menginap.

Melalui Santri Camp, para peserta diajak merasakan atmosfer kehidupan pesantren secara utuh. Fokus utamanya adalah penguatan karakter, kemandirian, dan kreativitas yang dikemas melalui aktivitas edukatif yang menyenangkan.

Salah satu sesi yang paling mencuri perhatian adalah kelas memasak pizza. Uniknya, para santri diminta membawa bahan-bahan dari rumah masing-masing, seperti bawang bombay, sosis, hingga bakso. Mereka kemudian diajarkan teknik mengolah adonan hingga mengoperasikan tungku pemanas di bawah bimbingan juru masak profesional.

Baca Juga:Rayakan Hari Amal Bakti, Wali Kota Aaf Lepas Jalan Sehat Kerukunan di Kemenag Kota PekalonganWaspada Penipuan Modus Truk Kosong Sasar Pengadaan Makan Bergizi Gratis, Pedagang Pekalongan Rugi Ratusan Juta

Pengasuh Madrasah Budaya Pungkuran, Abdul Muis, menjelaskan bahwa keterlibatan santri sejak tahap persiapan bahan bertujuan untuk melatih tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

“Santri Camp ini kami rancang untuk memberi bekal nyata kepada santri laju agar mereka memiliki karakter kuat, kepercayaan diri, dan kemandirian,” ujar Abdul Muis, Minggu (4/1/2026).

Belajar Mengambil Keputusan melalui Topping Pizza

Kegiatan memasak dipilih bukan sekadar untuk melatih skill kuliner, melainkan sebagai media pembelajaran psikologis. Juru masak pizza, Arfi Cahya Fetrianto, memberikan kebebasan penuh kepada santri untuk meracik topping sesuai selera mereka sendiri.

“Santri kami latih untuk berani menentukan pilihan sendiri. Nilai ini penting agar mereka terbiasa mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Arfi.

Kemandirian dalam menentukan pilihan ini diharapkan terbawa dalam aspek kehidupan mereka lainnya, sehingga santri tidak hanya mengikuti arus, tetapi memiliki prinsip yang kuat.

Paduan Ilmu Agama dan Keterampilan Modern

Meski diselingi dengan kegiatan kreatif, Madrasah Budaya Pungkuran tetap mengedepankan fondasi agama yang kuat. Para santri tetap mendapatkan materi mengaji kitab kuning, tahfidz tematik, serta diskusi fikih kontemporer.

Selain itu, Madrasah Budaya Pungkuran juga membuka kelas pengembangan bakat lainnya, mulai dari teater, musik, hingga jurnalistik digital dan public speaking. Pendekatan ini merupakan upaya pesantren dalam menghadirkan pendidikan agama yang inklusif, ramah anak, dan relevan dengan perkembangan zaman.

0 Komentar