RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan mendorong para orang tua untuk mulai memberikan pendidikan seks yang tepat sejak dini kepada anak-anak mereka. Langkah ini dinilai mendesak untuk mematahkan stigma di masyarakat yang selama ini menganggap pembahasan mengenai seksualitas sebagai hal yang tabu dan vulgar.
Edukasi seksualitas sejatinya bukan membicarakan hubungan seksual, melainkan upaya preventif untuk mengenalkan anak pada anatomi tubuh, batasan sentuhan yang diperbolehkan, hingga keberanian untuk berkata tidak terhadap tindakan yang tidak nyaman. Tanpa pemahaman yang benar, anak-anak berada dalam posisi rentan terhadap kekerasan seksual.
Kepala SKB Kota Pekalongan, Bonari, menuturkan bahwa kekhawatiran orang tua sering kali bersumber dari ketidaktahuan cara memulai pembicaraan tersebut dengan bahasa yang santun namun jelas.
Baca Juga:Capaian Luar Biasa! Realisasi Pajak Daerah Kendal 2025 Tembus Rp 379 Miliar, PBB Lampaui TargetAkses KITB Makin Mulus! Jalan Pantura ke Kedawung Sepanjang 4,5 Km Rampung Diaspal Senilai Rp15 M
“Banyak orang tua sebenarnya peduli, namun belum memiliki bekal bahasa, pemahaman, dan keberanian untuk membicarakannya secara tepat. Pendidikan seks sering kali dimaknai sebatas larangan dan rasa takut, bukan sebagai upaya perlindungan,” ujar Bonari, Selasa (6/1/2026).
Urgensi Khusus bagi Anak Inklusi
Fokus perhatian SKB Kota Pekalongan tertuju pada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Kelompok ini dinilai memiliki risiko kerentanan yang lebih tinggi karena keterbatasan dalam komunikasi dan pemahaman sosial. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan seks bagi mereka memerlukan pendampingan yang lebih intens dan konsisten.
Sasy Madona, salah satu orang tua siswa Paket A Inklusi, mengakui tantangan berat dalam mengedukasi anaknya. Namun, ia menyadari bahwa hal tersebut tidak bisa ditunda demi keselamatan sang buah hati.
“Sebagai orang tua, kami sering bingung harus mulai dari mana dan menggunakan bahasa seperti apa. Padahal, pendidikan seks itu penting agar anak mengenal tubuhnya dan merasa aman, bukan tentang hal tabu,” ungkap Sasy.
Menciptakan Lingkungan Aman
Menurut Bonari, pendidikan seks mencakup pengelolaan emosi dan penghargaan terhadap diri sendiri. Dengan bimbingan yang tepat dari lembaga pendidikan, orang tua diharapkan lebih percaya diri dalam membimbing anak mengenali batasan diri.
Program edukasi ini diharapkan mampu membangun benteng perlindungan bagi remaja di usia rentan, sehingga mereka memiliki kesadaran tinggi akan privasi tubuhnya. SKB Kota Pekalongan berkomitmen terus mendampingi orang tua agar tercipta lingkungan yang aman dan bertanggung jawab bagi tumbuh kembang anak, baik di rumah maupun di sekolah. (mal)
