RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Kota Pekalongan bukan hanya dikenal sebagai wilayah pesisir Pantura Jawa, tetapi juga sebagai pusat denyut nadi mahakarya tekstil Nusantara. Sarung batik Pekalongan menjadi representasi kuat perpaduan sejarah, kearifan lokal, dan kekayaan budaya yang telah memikat perhatian dunia.
Di bawah panas matahari khas pesisir, para perajin batik Pekalongan terus mempertahankan tradisi dengan ketekunan tinggi. Menggunakan kain katun primissima, jemari mereka menorehkan malam dengan canting, menciptakan sarung batik yang bukan sekadar busana, melainkan simbol nilai kehidupan dan identitas budaya.
Berbeda dengan batik pedalaman yang identik dengan warna sogan kalem, sarung batik Pekalongan justru tampil berani dan ekspresif. Karakter tersebut menjadi penanda keterbukaan masyarakat pesisir terhadap akulturasi berbagai budaya dunia.
Baca Juga:PCNU Kota Pekalongan Salurkan Rp50 Juta Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana Sumatera-AcehPengelolaan Sampah Kota Pekalongan Capai 60 Persen, Wali Kota Aaf Yakin Tembus 80 Persen
Pengaruh budaya Tionghoa terlihat jelas melalui motif burung phoenix atau lok chan. Sementara sentuhan Eropa hadir lewat motif bunga buketan yang elegan. Nilai-nilai Islam juga kuat tercermin dalam pola geometris dan abstrak yang sarat makna kesantunan.
Ciri khas lainnya terletak pada harmoni warna pesisiran yang mencolok. Merah menyala, biru laut, hijau botol hingga ungu pekat menjadi palet utama yang menggambarkan karakter dinamis masyarakat Pekalongan. Pewarnaan dilakukan menggunakan bahan alami maupun sintetis berkualitas tinggi agar menghasilkan warna tajam dan tahan lama.
Ketelitian menjadi kunci utama dalam proses pembuatannya. Setiap isen-isen dan garis canting dikerjakan secara detail, menghasilkan motif rapat yang mencerminkan etos kerja keras para pembatik Kota Batik.
“Mengenakan sarung batik Pekalongan bukan hanya soal berpakaian, tetapi bentuk perayaan identitas dan upaya menjaga warisan budaya yang diwariskan lintas generasi,” ucap Khusnul Khotimah, Owner Batik Rayhan Pekalongan.
Sebagai bagian dari World’s City of Batik, sarung batik Pekalongan kini tidak hanya digunakan untuk keperluan ibadah, tetapi juga merambah acara formal hingga menjadi tren fesyen generasi muda. Fleksibilitas desain dan kekuatan nilai tradisi membuatnya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
“Menggunakan sarung batik Pekalongan berarti turut memikul tanggung jawab menjaga warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia melalui UNESCO,” pungkas Alumni UIN KH Abdurrohman Wahid itu. (dur)
