Jejak Rahasia Perlawanan Rakyat Batang, Tari Babalu Diusulkan Jadi Warisan Budaya Takbenda 2026

Jejak Rahasia Perlawanan Rakyat Batang, Tari Babalu Diusulkan Jadi Warisan Budaya Takbenda 2026
NOVIA ROCHMAWATI MENURJU WWTB - Pemkab Batang saat ini tengah mengusulkan agar Tari Babalu bisa menyandang status Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Bunyi peluit yang nyaring dan kostum nyentrik dengan kacamata hitam bukan sekadar pelengkap panggung bagi para penari Babalu. Di balik estetika yang unik tersebut, tersimpan narasi besar tentang taktik gerilya rakyat Batang melawan kolonialisme yang kini tengah diperjuangkan untuk meraih pengakuan nasional.

Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) secara resmi mengusulkan Tari Babalu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2026. Langkah ini diambil untuk memproteksi sekaligus mempopulerkan identitas budaya asli yang lahir sejak dekade 1940-an tersebut.

Pengamat seni sekaligus pemilik Sanggar Merti Desa, Tatik Setianingsih, mengungkapkan bahwa istilah “Babalu” memiliki akar filosofis “Aba-aba Dahulu”. Peluit yang ditiup selama tarian merupakan simbol komando perang untuk mengubah strategi serangan di medan laga.

Baca Juga:Update Laka Tol Batang–Semarang: Polisi Belum Tetapkan Tersangka, Hasil Ramp Check Truk Jadi KunciBulan Dana PMI Batang 2025 Tembus Rp 1,7 Miliar, Bupati Faiz Minta Partisipasi Instansi Ditingkatkan

“Gerakan Tari Babalu sebenarnya berisi teknik silat yang disamarkan. Peluit itu simbol aba-aba perjuangan. Setiap bunyi menandakan pergantian strategi,” ujar Tatik saat ditemui di Sanggar Merti Desa, Kecamatan Wonotunggal, Selasa (6/1/2026).

Sandi Perjuangan dalam Gerak Maskulin

Berbeda dengan kesenian Sintren yang kental dengan nuansa mistis, Babalu menonjolkan karakter maskulin dan gagah. Busana prajurit yang disamarkan dengan topi kupluk berkuncir serta kaos kaki setinggi lutut menggambarkan bagaimana pejuang masa lalu menyusup ke wilayah lawan tanpa dicurigai.

Meskipun secara tradisional dibawakan oleh perempuan, gerakan di dalamnya merepresentasikan ketegasan tentara. Kekhasan inilah yang membuat Tari Babalu sering menjadi permintaan utama setiap kali ada kunjungan delegasi luar daerah ke Batang.

“Babalu itu identitas Batang. Pakaiannya seperti prajurit, topinya berkuncir. Karakternya kuat dan berani. Jika ada tamu dari luar daerah, yang sering diminta justru Babalu karena beda dan berkarakter,” jelas Tatik.

Menuju Pengakuan Nasional

Proses pengusulan Tari Babalu sebagai WBTb kini telah memasuki babak krusial. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Batang, Camelia Dewi, memastikan bahwa naskah akademik, dokumentasi sejarah, hingga rekaman video pementasan telah diserahkan kepada pemerintah pusat.

Menurut Dewi, Babalu memiliki nilai historis yang kuat dan tidak ditemukan di daerah lain, sehingga sangat layak mendapatkan status warisan budaya nasional.

0 Komentar