Naik Signifikan! Kunjungan Museum Batik Pekalongan Tembus 1.080 Orang Selama Libur Nataru 2025/2026

Naik Signifikan! Kunjungan Museum Batik Pekalongan Tembus 1.080 Orang Selama Libur Nataru 2025/2026
ISTIMEWA MENINGKAT - Jumlah pengunjung Museum Batik mengalami peningkatan pada periode libur Nataru.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Museum Batik Pekalongan mencatatkan performa impresif dalam menarik minat pelancong selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Destinasi wisata edukasi ini menjadi primadona baru bagi wisatawan yang ingin mengisi waktu liburan dengan menyelami kekayaan budaya lokal.

Berdasarkan data resmi, jumlah pengunjung selama masa liburan tersebut mencapai 1.080 orang. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 840 kunjungan.

Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini terlihat dari lonjakan pengunjung harian yang menembus angka ratusan orang setiap harinya.

Baca Juga:Bangkit dari Mangkrak, UMKM Center Pekalongan Kini Jadi Sentra Kuliner Jadul yang Ramai PengunjungDahsyat! Meski Dana Pusat Dipangkas Rp194 Miliar, Anggaran UHC Kota Pekalongan Justru Naik di 2026

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kunjungan liburan akhir tahun 2025 mengalami kenaikan yang cukup baik. Rata-rata harian bisa mencapai 200 pengunjung,” ujar Nurhayati saat memberikan keterangan di Pekalongan, Rabu (7/1/2026).

Magnet Wisatawan Luar Kota dan Anak Muda

Antusiasme ini tidak hanya datang dari warga lokal. Museum Batik Pekalongan justru dibanjiri oleh pelancong dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Bekasi. Menariknya, profil pengunjung kini didominasi oleh kelompok keluarga dan generasi muda yang mulai melirik museum sebagai alternatif tempat nongkrong sekaligus belajar sejarah.

Selain koleksi batik yang melegenda, kehadiran pameran khusus karya penyandang disabilitas yang digelar di Ruang Pamer 1 sejak 9 Desember 2025 menjadi daya tarik magnetis. Pameran ini mengusung pesan inklusivitas yang kuat, menggaet simpati dan rasa penasaran pengunjung.

“Melalui pameran disabilitas ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Layaknya kain yang mungkin tidak sempurna, justru nilai dan keunikannya dapat ditampilkan dan dikembangkan,” tandas Nurhayati.

Museum sebagai Ruang Inklusif

Nurhayati menambahkan bahwa pameran karya disabilitas tersebut bukan sekadar pajangan. Agenda ini merupakan upaya museum dalam menumbuhkan rasa percaya diri bagi para penyandang disabilitas serta memberikan edukasi kepada publik mengenai pentingnya ruang budaya yang terbuka bagi semua kalangan.

Dengan pencapaian di awal tahun 2026 ini, pengelola berharap Museum Batik tidak hanya dipandang sebagai gudang penyimpanan kain tua, melainkan bertransformasi menjadi ruang refleksi, pembelajaran, dan apresiasi terhadap keberagaman budaya Nusantara.

0 Komentar