RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan semakin gencar memperluas jangkauan Program Makan Bergizi (MBG). Tak hanya menyasar anak sekolah, program strategis ini kini telah menjangkau 2.400 penerima manfaat dari kategori Ibu Hamil (Bumil), Ibu Menyusui (Busui), dan Balita (B3).
Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah dalam melakukan intervensi gizi sejak dini guna mencetak generasi masa depan yang berkualitas dan bebas dari ancaman stunting.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Pekalongan, M. Noor Faishal Zakiy, menjelaskan bahwa kelompok B3 merupakan prioritas utama dari total 64.000 sasaran penerima manfaat MBG di Kota Batik.
Baca Juga:Kualitas Air di Pekalongan Masih Jadi PR, Aman di Sumber PDAM, Namun Tercemar Bakteri di Rumah TanggaWeleri Bersih! TPS Liar di Jalan Utama Resmi Ditutup, DLH Kendal Siapkan CCTV untuk Intai Pelaku
“Dari total sasaran penerima manfaat MBG di Kota Pekalongan, sebanyak 2.400 di antaranya merupakan kelompok bumil, busui, dan balita. Ke depan tentu akan terus kita maksimalkan agar cakupan dan manfaatnya semakin luas,” ungkap Faishal Zakiy saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Sistem Penyaluran Door to Door Bagi Kelompok Rentan
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, SPPG Kota Pekalongan menggandeng kader posyandu di setiap wilayah. Kader-kader inilah yang menentukan titik pengambilan bantuan agar mudah dijangkau oleh para ibu.
Menariknya, pemerintah memberikan pelayanan ekstra bagi penerima manfaat yang memiliki kendala fisik atau berhalangan hadir ke titik kumpul.
“Biasanya para kader posyandu menyepakati titik-titik pengambilan MBG. Namun, bagi bumil, busui, atau balita yang berhalangan hadir, bantuan MBG akan kami antarkan secara door to door ke rumah masing-masing,” jelas Faishal.
Fokus pada Risiko Stunting
Dalam menentukan sasaran, SPPG Kota Pekalongan tidak bekerja secara kaku. Penentuan penerima manfaat dilakukan berdasarkan kondisi riil di lapangan melalui koordinasi ketat dengan Puskesmas dan Korcam. Kelompok yang memiliki risiko stunting tinggi mendapatkan prioritas utama dalam distribusi makanan bergizi ini.
Faishal juga menekankan pentingnya sinergi antara program MBG dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sudah berjalan di Dinas Kesehatan agar tidak terjadi tumpang tindih anggaran.
“Untuk kelompok B3, kami lebih mengutamakan mereka yang memang kondisi kesehatannya membutuhkan, terutama yang mengalami atau berisiko stunting,” tegasnya.
