Akses Rejosari-Sigemplong Batang Lumpuh Akibat Longsor, Motor Bisa Lewat Tapi Mobil Harus Memutar

Akses Rejosari-Sigemplong Batang Lumpuh Akibat Longsor, Motor Bisa Lewat Tapi Mobil Harus Memutar
M. DHIA THUFAIL TINJAU LONGSOR - Kalak BPBD Batang, Wawan Nurdiansyah dan jajaran saat meninjau langsung lokasi longsor di Dukuh Rejosari, Rabu (7/1/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Mobilitas warga di lereng pegunungan Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, masih terhambat. Akses jalan utama yang menghubungkan Dukuh Rejosari dengan Dukuh Sigemplong di Desa Pranten hingga kini masih tertutup material tanah akibat longsor tebing Bukit Sipandu.

Bencana yang dipicu oleh kemiringan lereng yang ekstrem ini berdampak langsung pada jalur pendidikan menuju SMP Negeri 4 Bawang serta urat nadi perekonomian petani setempat. Meski pembersihan sudah dilakukan, kondisi medan yang terjal membuat penanganan berjalan lambat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan lokasi pada Kamis (8/1/2026). Ia menyebutkan bahwa ancaman longsor di wilayah ini bersifat persisten.

Baca Juga:Warga Ngampel Kendal Keluhkan Debu Tebal Dump Truk Galian C, Omzet Warung Anjlok dan Rumah RusakJamin Keamanan Pangan, 22 Dapur SPPG di Kota Pekalongan Resmi Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

“Benar, kami kemarin meninjau lokasi. Kejadiannya sebenarnya sudah sejak November tahun lalu. Saat ini material longsoran mulai dibersihkan secara gotong royong oleh warga,” ungkap Wawan kepada awak media.

Alat Berat Tak Bisa Masuk ke Medan Terjal

Material longsor yang berasal dari tebing setinggi 10 meter tersebut menutup jalan cor sepanjang lima meter. Sayangnya, penggunaan alat berat tidak memungkinkan di lokasi ini karena akses jalan yang sempit dan berbentuk letter Z dengan tanjakan yang sangat curam.

Akibatnya, warga bersama Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) harus berjibaku melakukan pembersihan secara manual menggunakan cangkul dan peralatan seadanya.

“Sekarang jalan sudah bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda motor. Namun kendaraan roda empat, apalagi yang membawa muatan, belum bisa melintas karena material belum sepenuhnya bersih dan kontur jalan cukup curam,” jelas Wawan.

Warga Terpaksa Memutar 15 Kilometer

Terputusnya akses jalan ini sangat merepotkan warga. Jika ingin menuju pusat kecamatan atau mengangkut hasil bumi menggunakan mobil, warga harus mengambil jalur memutar melalui Dukuh Bitingan.

“Kalau tidak lewat jalur ini, warga harus memutar sejauh sekitar 15 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit melalui Dukuh Bitingan. Jadi cukup merepotkan,” tambahnya.

Risiko Tinggi: Delapan Rumah Masih Mengungsi

BPBD menetapkan status risiko sangat tinggi untuk Dukuh Rejosari. Tercatat ada delapan unit rumah yang berada tepat di bawah tebing rawan. Setiap kali hujan lebat mengguyur dalam durasi lama, penghuni rumah tersebut diwajibkan mengungsi ke tempat kerabat yang lebih aman demi menghindari korban jiwa.

0 Komentar