RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Batang membuktikan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar wacana. Melalui program inovatif, pihak sekolah mengajak para siswa untuk melakukan pemilahan sampah secara terstruktur yang dibalut dengan sentuhan kreativitas berupa pembuatan tong sampah hias di setiap kelas.
Langkah ini diambil untuk menanamkan kesadaran ekologis sekaligus membangun karakter siswa agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Alih-alih hanya memberikan instruksi verbal, sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan seni melalui media tempat sampah.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas MAN Batang, Endon Nur Cahyati, menjelaskan bahwa keterlibatan langsung siswa menjadi kunci keberhasilan pengelolaan limbah di lingkungan pendidikan tersebut.
Baca Juga:Persik Kendal Puncaki Klasemen Liga 4 Jateng Usai Cukur Persibara 3-0, Laskar Bahurekso Sapu Bersih!Akses Rejosari-Sigemplong Batang Lumpuh Akibat Longsor, Motor Bisa Lewat Tapi Mobil Harus Memutar
“Anak-anak tidak hanya diminta membuang sampah pada tempatnya, tapi juga kami ajak berekreasi dengan melukis dan menghias tong sampah di kelas masing-masing,” ujar Endon saat memberikan keterangan pada Kamis, 8 Januari 2026.
Infrastruktur Enam Rumah Sampah
Untuk mendukung kebiasaan baru ini, MAN Batang telah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa enam rumah sampah yang tersebar strategis di dua blok area sekolah. Hal ini bertujuan agar proses pembuangan sampah dari kelas tidak menumpuk di satu titik dan lebih mudah dijangkau oleh siswa.
“Enam rumah sampah itu kami bagi di dua blok, supaya lebih efektif. Jadi setiap kelas punya alur yang jelas, sampah dari kelas dibawa ke rumah sampah terdekat,” jelas Endon.
Orientasi Karakter, Bukan Materi
Pengelolaan sampah di MAN Batang juga menyentuh aspek ekonomi sirkular, di mana sampah anorganik yang masih layak guna disalurkan ke pengepul untuk didaur ulang. Meski mampu menghasilkan nilai ekonomis sekitar Rp500 ribu per tahun, Endon menegaskan bahwa uang bukanlah target utama sekolah.
Fokus terbesar madrasah adalah transformasi perilaku siswa agar budaya memilah sampah menjadi bagian dari gaya hidup mereka, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
“Sampah anorganik yang masih bisa dimanfaatkan memang kami kumpulkan dan disalurkan untuk daur ulang. Namun, nilai terpenting adalah pembentukan karakter siswa agar peduli lingkungan dan terbiasa menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
