RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Kabupaten Batang tidak hanya menyimpan pesona alam Alas Roban, tetapi juga menyimpan harta karun kuliner yang kian melegenda: Serabi Kalibeluk. Penganan berukuran jumbo ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan rekam jejak sejarah yang telah eksis sejak era Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.
Keistimewaan Serabi Kalibeluk terletak pada ukurannya yang mencapai diameter 10 sentimeter—jauh lebih besar dibanding serabi pada umumnya. Teksturnya yang tebal dan padat membuat warga lokal kerap menganggap satu porsi serabi ini setara dengan mengonsumsi sepiring nasi.
Salah seorang perajin, Fadhilah, menegaskan bahwa rahasia kelezatan serabi ini terletak pada konsistensi menjaga resep warisan nenek moyang yang tidak pernah berubah selama berabad-abad.
Baca Juga:Warga Ngampel Kendal Keluhkan Debu Tebal Dump Truk Galian C, Omzet Warung Anjlok dan Rumah RusakJamin Keamanan Pangan, 22 Dapur SPPG di Kota Pekalongan Resmi Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
“Resepnya tidak banyak berubah. Dari dulu seperti ini, hanya bahannya saja yang kami jaga kualitasnya,” ujar Fadhilah saat ditemui di sela kesibukannya, Kamis (8/1/2026).
Jejak Sejarah Nyai Randinem dan Ki Ageng Cempaluk
Narasi sejarah mencatat Serabi Kalibeluk mulai dikenal luas sekitar tahun 1663 Masehi. Adalah Nyai Randinem, atau yang dikenal sebagai Mbok Rondo, sosok perempuan yang pertama kali meracik serabi ini. Resep rahasianya disebut berasal dari Ki Ageng Cempaluk, ayahanda dari tokoh legendaris Tumenggung Bahurekso.
Dahulu, hanya segelintir orang yang menekuni usaha ini. Namun, sejak tahun 2008, geliat ekonomi dari sektor kuliner ini meningkat pesat. Kini, belasan kepala keluarga di Kampung Kalibeluk menggantungkan hidup dari kepul asap tungku kayu bakar yang menghasilkan serabi gurih dan manis tersebut.
Proses Tradisional: Tungku Kayu dan Wajan Tanah Liat
Hingga detik ini, para perajin di Kampung Kalibeluk menolak beralih ke teknologi modern. Mereka tetap setia menggunakan tungku kayu bakar dan wajan tanah liat untuk memasak adonan dari tepung beras, kelapa, dan gula jawa.
Beras sebagai bahan utama digiling secara manual menggunakan modifikasi alu dan lumpang. Sentuhan tradisional inilah yang memberikan aroma smoky dan tekstur berongga yang lembut di dalam namun tetap garing di luar.
Varian Rasa & Harga:
