RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi bencana alam, puluhan siswa SD Muhammadiyah 02 Noyontaan Kota Pekalongan mengikuti simulasi penyelamatan diri dari gempa bumi pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kegiatan edukasi dini ini digelar di Kampus 1 melalui kolaborasi intensif dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Pekalongan.
Dalam simulasi tersebut, lingkungan sekolah diubah menjadi laboratorium kebencanaan. Para siswa mempraktikkan langkah-langkah krusial saat guncangan terjadi, mulai dari berlindung di bawah meja, melindungi kepala dengan tas, hingga prosedur evakuasi menuju titik kumpul melalui jalur yang telah ditentukan.
Kepala SD Muhammadiyah 02 Noyontaan, Istiqomah IRC, menegaskan bahwa membekali anak didik dengan keterampilan bertahan hidup (survival skill) adalah keharusan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Baca Juga:Puting Beliung Terjang Kesesi Pekalongan, 85 Rumah Rusak dan Kerugian Mencapai Ratusan Juta RupiahAngin Kencang Terjang Rowosari Kendal, 10 Rumah Rusak dan Bangunan BUMDes Roboh Dihantam Badai
“Kegiatan ini memberikan pembelajaran agar anak-anak siap siaga. Dengan simulasi ini, siswa dibekali pengetahuan tentang cara penanganan yang tepat sehingga dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadi,” ujar Istiqomah di sela-sela kegiatan.
Libatkan Guru dan Manajemen Sekolah
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini tidak hanya fokus pada siswa. Para guru dan jajaran manajemen sekolah juga mendapatkan pembekalan khusus mengenai manajemen krisis. Hal ini penting agar para tenaga pendidik mampu tetap tenang dan terorganisir saat mengarahkan ratusan siswa dalam situasi darurat yang sesungguhnya.
Ketua MDMC Kota Pekalongan, Heri Kuswanto, menjelaskan bahwa fokus utama dalam latihan ini adalah melindungi organ vital, yakni kepala. Penggunaan tas sekolah sebagai pelindung kepala sementara menjadi teknik sederhana namun efektif bagi anak-anak.
“Kita berupaya mengurangi risiko bencana. Saat gempa, siswa diarahkan berlindung di tempat aman seperti di bawah meja atau meletakkan tas di atas kepala karena bagian tersebut sangat rentan,” terang Heri.
Apresiasi Atas Kesiapan Siswa
Heri memberikan apresiasi tinggi terhadap jalannya simulasi tersebut. Menurutnya, kesuksesan evakuasi mandiri sangat bergantung pada ketenangan peserta. Di SD Muhammadiyah 02 Noyontaan, para siswa dinilai sudah cukup dewasa dalam merespons instruksi pelatih tanpa menimbulkan kepanikan massal.
“Alhamdulillah, hasil simulasi sesuai rencana awal. Anak-anak sudah mengetahui cara mengamankan diri dan mampu berjalan melalui jalur evakuasi menuju titik aman sesuai arahan instruktur,” pungkasnya.
