RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menetapkan Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, sebagai lokasi proyek percontohan (demplot) pengembangan benih padi Biosalin. Langkah strategis ini dikolaborasikan dengan inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular guna menjawab tantangan ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di wilayah pesisir.
Penetapan Margorejo sebagai desa proyek bukan tanpa alasan. Desa ini dinilai progresif dalam mengadopsi riset untuk mengatasi intrusi air laut yang selama ini menghantui lahan persawahan warga. Proyek ini merupakan hasil sinergi lintas lembaga antara BRIN, Pertamina Foundation, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Pemkab Kendal.
Perwakilan Pertamina Foundation, Tri Martini Patria, menegaskan bahwa dukungan terhadap padi Biosalin adalah bagian dari pemberdayaan masyarakat pesisir agar lahan marginal kembali produktif.
Baca Juga:Wali Kota Aaf Kukuhkan Pengurus BAMAGNAS Kota Pekalongan, Tegaskan Komitmen Toleransi Lintas ImanPuting Beliung Terjang Kesesi Pekalongan, 85 Rumah Rusak dan Kerugian Mencapai Ratusan Juta Rupiah
“Kami melihat potensi besar pada lahan pesisir yang selama ini dianggap tidak produktif. Melalui benih padi Biosalin, kami berharap petani kembali memiliki harapan dan pendapatan yang lebih baik,” tegas Patria, Sabtu (10/1/2026).
Sains untuk Petani Pesisir
Secara teknis, BRIN berperan memberikan pendampingan teknologi budidaya. Padi Biosalin dirancang khusus agar memiliki toleransi tinggi terhadap kadar garam (salinitas) yang biasanya mematikan varietas padi biasa. Dengan data lapangan yang akurat, riset ini disesuaikan dengan karakteristik tanah di pesisir Kendal.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, menyambut baik inovasi ini sebagai tameng menghadapi krisis lahan akibat perubahan iklim.
“Inovasi ini sejalan dengan upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan intrusi air laut. Program akan terus kami evaluasi dan dorong untuk diperluas,” kata Pandu.
Ekonomi Sirkular Sampah: Nilai Tambah bagi Desa
Selain sektor pertanian, Desa Margorejo juga didorong menjadi kiblat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Sampah tidak lagi hanya dikumpulkan lalu dibuang, melainkan dikelola agar memiliki nilai ekonomi bagi warga. Skema ini dirancang agar sejalan dengan keberlanjutan ekosistem desa pesisir.
Kepala Desa Margorejo, Suyoto, menyatakan optimisme tinggi terhadap penetapan desa yang dipimpinnya sebagai laboratorium riset nasional tersebut. Menurutnya, selama ini petani sering mengalami gagal panen akibat air laut yang masuk ke sawah.
