Review Buku Mitos Sisifus Albert Camus dalam Kehidupan Mahasiswa

Buku Albert Camus penting untuk disimak
Buku Mitos Sisifus memiliki beberapa catatan setelah saya baca. Paling tidak ada 6 catatan penting yang mendasari buku ini. (foto: illustrasi AI)
0 Komentar

Oleh Muh Ridwan Baihaqi

RADARPEKALONGAN.ID – Buku Mitos Sisifus memiliki beberapa catatan setelah saya baca. Paling tidak ada 6 catatan penting yang mendasari buku ini.

Pertama, Harapan Mahasiswa di Kampus

Menurut saya dalam bukunya Albert Camus yang berjudul Mitos Sisifus relevan dengan kehidupan mahasiswa. Terutama dalam menghadapi tekanan akademik, tuntutan sosial dan ketidakjelasan masa depan.

Mahasiswa sering kali memikirkan masa depan dan harapan besar ingin menemukan jati diri, mendapatkan ilmu yang bermakna serta membangun masa depan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Baca Juga:Tanggapan atas Catatan Arga Rasya Putra & Lubis Ardani, Dinamika Intelektual Mahasiswa Mulai TumbuhCatatan untuk Arif 'Marx' Budiman: Bung Karno Itu Pemikir Dialektis Bukan Harmonis

Namun, dalam realitas di dalam kampus kerap sekali terasa monoton dan melelahkan, tugas datang silih berganti, sistem akademik terasa seperti kaku, hasil tidak sebanding dengan usaha, sementara rasa capek dan bingung makin menumpuk.

Di sinilah muncul apa yang dikatakan oleh mas Albert Camus sebagai absurditas, yaitu benturan antara harapan manusia dengan kenyataan dunia yang tidak memberi kepastian.

Kedua. Absurditas di dalam kehidupan mahasiswa

Setiap semester mahasiswa mengulangi siklus yang sama seperti mengerjakan tugas, belajar, mengikuti uts dan uas, gagal, lalu bangkit kembali.

Tidak jarang mahasiswa mengalami kejenuhan, kelelahan mental, dan bertanya-tanya “Untuk apa saya melakukan semua ini? “, “Apakah kuliah menjamin masa depan yang sukses?” Pertanyaan tersebut memang wajar dilontarkan mahasiswa dan sebagai bentuk kesadaran absurd yang menurut Albert Camus justru menandakan manusia yang berpikir.

Ketiga, Mahasiswa dan Sisifus

Albert Camus menjelaskan bahwa reaksi yang keliru terhadap absurditas adalah menyerah, baik itu dalam bentuk putus asa, menjauh dari dunia belajar dan kehilangan semangat untuk hidup.

Untuk mahasiswa menyerah dapat tampak dalam sikap apatis terhadap perkuliahan, belajar cuma untuk mendapatkan nilai, atau bahkan ingin berhenti kuliah karena merasa hidup tidak ada artinya.

Albert Camus menolak jalan ini karena menyerah berarti mengingkari potensi kesadaran manusia itu sendiri.

Keempat, Pemberontakan sadar ala mas Camus

Baca Juga:Yayasan Kehati dan Bank BTN Tanam 2.500 Pohon Mangrove di Pesisir Utara Kabupaten PekalonganCatatan untuk Arif 'Marx' Budiman, Renaisans Mazhab Pemikiran Baru di Pekalongan, Membangun Budaya Kritis

Albert Camus menawarkan sikap pemberontakan sadar (revolt). Bagi mahasiswa bentuk pemberontakan ini bukan berarti untuk melawan dosen atau sistem kampus secara destruktif. Namun menolak tunduk pada bentuk segala bentuk keputusasaan.

0 Komentar