Minim Kesadaran! Baru 3 Persen Warga Pekalongan Rutin Sedot Septic Tank, Risiko Pencemaran Air Mengintai

Minim Kesadaran! Baru 3 Persen Warga Pekalongan Rutin Sedot Septic Tank, Risiko Pencemaran Air Mengintai
ISTIMEWA Sanitarian Muda Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Maysaroh.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan kini tengah menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sanitasi yang aman. Meski hampir 90 persen rumah tangga di Kota Batik ini sudah memiliki jamban layak, namun faktanya sangat sedikit yang memenuhi kriteria sanitasi aman.

Berdasarkan data terbaru, baru sekitar 3 persen masyarakat yang rutin melakukan penyedotan septic tank secara berkala. Mayoritas warga cenderung baru memanggil jasa sedot tinja ketika saluran pembuangan sudah mengalami kebuntuan atau meluap. Kebiasaan ini dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan lingkungan jangka panjang.

Sanitarian Muda Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Maysaroh, menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara jamban yang sekadar layak dengan jamban yang benar-benar aman bagi lingkungan.

Baca Juga:Waspada Bencana di Kendal, 8 Kejadian Tercatat dalam Sebulan, Tanah Longsor Jadi Ancaman Paling DominanMisi Kemanusiaan NU Peduli, Relawan LPBI NU Kota Pekalongan Diberangkatkan ke Aceh untuk Pemulihan Bencana

“Hingga tahun 2024, baru sekitar 3 persen rumah tangga di Kota Pekalongan yang melakukan penyedotan septic tank secara rutin. Padahal, penyedotan minimal setiap 3–5 tahun sekali sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan,” ujar Maysaroh dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).

Bahaya Tersembunyi Septic Tank yang Tak Terkuras

Maysaroh menekankan bahwa penyedotan rutin bukan sekadar mencegah WC mampet. Limbah manusia yang tidak dikelola dengan benar dalam tangki kedap air berpotensi merembes dan mencemari pori-pori tanah. Hal ini sangat berbahaya karena dapat mengontaminasi sumber air tanah yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

“Penyedotan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk melindungi kesehatan masyarakat sekitar agar limbah tidak mencemari tanah maupun sumber air,” tambahnya.

Dinkes juga menemukan fenomena di mana warga yang secara ekonomi mampu, justru masih enggan membangun atau merawat fasilitas sanitasinya secara mandiri dan cenderung menunggu bantuan pemerintah.

Fondasi Hidup Sehat Mulai dari Jamban

Dalam pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), perilaku Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) adalah langkah awal yang mutlak. Kepemilikan jamban sehat menjadi fondasi sebelum masyarakat bisa menerapkan perilaku hidup bersih lainnya, seperti mencuci tangan pakai sabun (CTPS) dan pengelolaan sampah yang benar.

“Kita pastikan terlebih dahulu buang air besar dilakukan di jamban yang sehat dan aman. Dari situ, kebiasaan mencuci tangan, pengolahan makanan secara bersih, hingga pengelolaan sampah dapat berjalan optimal,” jelas Maysaroh.

0 Komentar