RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Tren mengelola sampah menjadi pundi-pundi rupiah semakin mengakar di Kota Pekalongan. Bank Sampah Induk (BSI) Kota Pekalongan mencatatkan kinerja gemilang hingga penutupan tahun anggaran 2025 dengan adanya kenaikan jumlah nasabah yang cukup signifikan.
Partisipasi aktif masyarakat dalam ekonomi sirkular ini membuktikan bahwa sampah bukan lagi sekadar limbah, melainkan aset yang memiliki nilai jual. Peningkatan nasabah ini juga secara otomatis mendongkrak volume sampah yang berhasil terkelola dan gagal masuk ke TPA karena sudah dipilah sejak dari sumbernya.
Direktur Bank Sampah Induk Kota Pekalongan, Abdul Mukti, mengungkapkan bahwa grafik pertumbuhan nasabah terus menunjukkan angka positif sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.
Baca Juga:Waspada Bencana di Kendal, 8 Kejadian Tercatat dalam Sebulan, Tanah Longsor Jadi Ancaman Paling DominanMisi Kemanusiaan NU Peduli, Relawan LPBI NU Kota Pekalongan Diberangkatkan ke Aceh untuk Pemulihan Bencana
“Untuk tahun 2025, Bank Sampah Induk tetap berjalan. Jumlah nasabah mengalami peningkatan sekitar tujuh persen. Secara otomatis, ketika jumlah nasabah meningkat, volume sampah yang disetorkan juga ikut bertambah,” ujar Abdul Mukti saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2026).
Instansi dan Kelurahan Mulai Aktif Menabung
Menariknya, setoran sampah yang masuk ke BSI kini tidak hanya didominasi oleh perorangan atau ibu rumah tangga. Berbagai instansi pemerintah, kantor kelurahan, hingga komunitas masyarakat mulai rutin menyetorkan sampah anorganik mereka.
Peningkatan keterlibatan lintas sektor ini memberikan dampak ganda: lingkungan menjadi lebih bersih dan ada tambahan pemasukan kas bagi kelompok atau individu yang menabung. Namun, Mukti memberikan catatan bahwa tantangan terbesar saat ini masih pada konsistensi pemilahan sampah dari rumah.
“Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih tergolong rendah. Ini menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah yang harus terus kita dorong bersama,” jelasnya menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan.
Layanan Jemput Sampah 50 Kilogram
Guna memudahkan masyarakat yang memiliki kendala transportasi, Bank Sampah Induk Kota Pekalongan menyediakan fasilitas jemput sampah. Syaratnya cukup mudah, masyarakat atau komunitas hanya perlu mengumpulkan sampah anorganik dengan berat minimal 50 kilogram.
Jenis sampah yang diterima pun beragam, mulai dari plastik, kertas, logam, hingga botol kaca, sesuai dengan ketentuan harga yang telah ditetapkan. Layanan ini diharapkan mampu menarik minat warga yang memiliki volume sampah besar namun terkendala jarak menuju kantor BSI.
