RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Museum Batik Kota Pekalongan resmi mengintensifkan program strategis “Museum Goes to School” pada tahun 2025 ini. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas tren positif profil pengunjung museum yang saat ini secara signifikan didominasi oleh kalangan pelajar.
Pemerintah Kota Pekalongan melalui pengelola museum menilai bahwa menjemput bola ke institusi pendidikan adalah metode paling efektif untuk memperkuat literasi budaya. Program ini dirancang guna memastikan warisan budaya tak benda dunia ini tetap lestari di tangan generasi Z dan Alpha.
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga, menjelaskan bahwa keputusan untuk terjun langsung ke sekolah-sekolah merupakan hasil pemetaan data pengunjung yang dilakukan secara berkala. Dari statistik yang ada, terlihat antusiasme tinggi dari kelompok usia sekolah dibandingkan kategori pengunjung lainnya.
Baca Juga:Data Kemiskinan Batang Carut Marut, Operator Desa Wadul ke Bupati Soal Fitnah Bansos dan Sinkronisasi DTSENWarga Tutup Paksa Galian C Pal 15 Kendal, Wabup Benny Karnadi Ancam Cabut Izin Tambang yang Rusak Lingkungan
“Kami melihat adanya dominasi kuat dari kalangan pelajar dalam statistik pengunjung kami. Oleh karena itu, melalui program Museum Goes To School 2025, kami ingin menjemput bola,” ujar Nurhayati saat memberikan keterangan resmi di Pekalongan, Rabu (14/1/2026).
Menanamkan Identitas Bangsa Sejak Dini
Edukasi yang diberikan dalam program ini tidak hanya sebatas pengenalan visual motif batik. Museum Batik Pekalongan membawa materi yang lebih mendalam, mencakup filosofi di balik setiap goresan canting, teknik pewarnaan, hingga sejarah panjang batik sebagai identitas nasional yang diakui UNESCO.
Nurhayati menambahkan, dengan membawa materi edukasi langsung ke lingkungan sekolah, hambatan aksesibilitas dapat diminimalisir. Siswa tidak perlu menunggu jadwal kunjungan lapangan (field trip) untuk belajar, melainkan pihak museum yang hadir sebagai pemateri ahli di kelas-kelas.
“Harapannya, melalui inisiatif ini, kesadaran akan pelestarian warisan budaya dunia dapat tumbuh lebih kuat sejak dini,” imbuhnya.
Batik yang Terus Relevan
Museum Batik Pekalongan berkomitmen menjadikan batik bukan sekadar kain tradisional yang dipajang di etalase kaca, melainkan entitas budaya yang hidup dan dipahami maknanya. Program “Museum Goes to School” diproyeksikan menjadi katalisator agar generasi muda merasa memiliki dan bangga mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari.
Inisiatif ini juga diharapkan mampu memicu kreativitas siswa untuk berinovasi dalam dunia perbatikan di masa depan, sehingga ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Pekalongan tetap menjadi tulang punggung daerah. (mal)
