Ketulusan Orang Rimba juga keliatan dari cara mereka berpakaian.
Misalnya walaupun pakaian Orang Rimba menggunakan Cawat dan Kain yang terkesan primitif bagi orang modern, siapa sangka di balik alasan filosofisnya penggunaan pakaian mereka tentu didasari nilai ketulusan menjaga tradisi dan hukum adat yang telah diwarisi sejak dahulu kala.
Saya juga melihat cara berpakaian mereka itu semacam bebas dari kepentingan. Sadar gak sadar sih, cara berpakaian orang modern bukan cuma sekadar penutup aja, kadang sebagai embel-embel tertentu.
Entah itu strata kelas sosial atau ciri identitas jabatan, serta komunikasi politik atau bahasa pasar nya “kampanye”. Kalian tahu kan?
Kejujuran Orang Rimba
Baca Juga:Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan SilaturrahimReview Buku Mitos Sisifus Albert Camus dalam Kehidupan Mahasiswa
Terus terang, sebagai mahasiswa UIN saya baru mengenal istilah ekoteologi kemarin-kemarin tok, bisa dibilang istilah baru bagi saya.
Tentu saya turut apresiasi dan memberikan dukungan terhadap gagasan Pak Kemenag yang menyuarakan ekoteologi ini.
Ya memang sih, semacam permasalahan lingkungan dengan pendekatan agama bisa dibilang udah urgen untuk masyarakat modern yang punya agama yang gak pernah mempan sama pendekatan hukum-hukum formal negara.
Catat itu ya, yang punya agama! Saya kadang merasa orang modern itu kaya seperti gak jujur memahami agamanya.
Justru, Orang Rimba yang kita anggap primitif dengan kepercayaannya animisme dan dinamismenya itu lebih dahulu jujur terhadap alam dibanding kita.
Kepercayaan terhadap roh yang mendiami alam seperti pohon, hutan, dan sungai. Kepercayaan mereka terkonsep agar mereka gak berbuat sewenang-wenang terhadap alam.
Saya haqul yaqin kalau sebenernya kitab-kitab agama yang dianut orang-orang modern juga memerintahkan kebaikan terhadap alam.
Baca Juga:Tanggapan atas Catatan Arga Rasya Putra & Lubis Ardani, Dinamika Intelektual Mahasiswa Mulai TumbuhCatatan untuk Arif 'Marx' Budiman: Bung Karno Itu Pemikir Dialektis Bukan Harmonis
Masalahnya kita belum mau jujur memahami atau memang benar-benar gak tahu.
*) Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat Wali Songo Pekalongan.
