Cetak Pemimpin Masa Depan, PM Tazakka Batang Gelar Rannah Festival 2026 Berbasis Literasi dan Alquran

Cetak Pemimpin Masa Depan, PM Tazakka Batang Gelar Rannah Festival 2026 Berbasis Literasi dan Alquran
M. DHIA THUFAIL KUNJUNGI STAN - Sejumlah santri mengunjungi stan buku-buku Al Quran saat Rannah Festival 2026 di PM Tazakka, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Pondok Modern (PM) Tazakka, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, kembali meneguhkan perannya sebagai kawah candradimuka bagi calon pemimpin bangsa. Melalui gelaran Rannah Festival 2026, pesantren ini fokus pada penguatan karakter, literasi, dan kepemimpinan santri yang berakar pada nilai-nilai Alquran dan As-Sunnah.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para santri untuk mengasah kemampuan intelektual sekaligus spritual. Pimpinan PM Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi, menegaskan bahwa pesantren memikul tanggung jawab strategis dalam melahirkan figur pemimpin yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh.

“Festival ini dirancang untuk menumbuhkan semangat literasi, memperluas wawasan keilmuan, sekaligus menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap Alquran dan As-Sunnah,” ujar KH Anang saat ditemui di sela-sela pembukaan festival, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga:Hujan Angin di Kendal Tumbangkan Pohon Jati dan Asem Londo, Akses Jalan dan Listrik Sempat Putus TotalAngka Kemiskinan Batang Turun Jadi 7,79 Persen, Sektor Formal dan Program Daker Jadi Kunci Keberhasilan

Inovasi Teknologi dan Literasi Digital

Salah satu daya tarik utama dalam Rannah Festival tahun ini adalah pemanfaatan teknologi mutakhir guna mendukung pembelajaran. PM Tazakka menghadirkan fasilitas Virtual Reality (VR) yang memungkinkan para santri menjelajahi sejarah Islam secara interaktif dan kontekstual.

Di Aula Rabithah, pameran maket dan replika situs-situs suci Islam seperti Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi, hingga Rumah Rasulullah turut dipamerkan untuk memberikan visualisasi sejarah yang lebih nyata. Tak hanya itu, budaya literasi fisik juga diperkuat melalui penyelenggaraan book fair.

“Budaya literasi harus terus dikuatkan. Pemimpin masa depan lahir dari tradisi membaca dan berpikir. Pemimpin masa depan lahir dari tradisi membaca dan berpikir,” tegas KH Anang saat mendorong para santri untuk mencintai buku.

Ragam Kompetisi Edukatif

Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini memadukan tradisi keilmuan klasik dengan tren digital. Berbagai perlombaan digelar, mulai dari Lomba Cerdas Cermat (LCC), Hifdzil Qur’an, hingga kompetisi kreatif seperti Language Dubbing dan lomba konten TikTok bertema Alquran dan Hadis.

Kompetisi tersebut dibagi ke dalam empat divisi utama:

  • Divisi Alquran
  • Divisi Sunnah
  • Divisi Literasi Bahasa
  • Divisi Gabungan

KH Anang menjelaskan bahwa seluruh rangkaian lomba ini bertujuan untuk melatih daya pikir kritis dan kreativitas santri di tengah derasnya arus informasi digital.

0 Komentar