Oleh Ahnaf Syaikah Putra Fakhis
RADARPEKALONGAN.ID – Cara berpikir tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh sejarah, oleh kondisi material, dan oleh posisi sosial manusia di dalamnya.
Bung Karno memahami hal ini secara radikal. Baginya, berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan alat perjuangan.
Di titik inilah materialisme dialektika historis menemukan relevansinya. Sebuah cara pandang yang melihat realitas sebagai proses yang bergerak, penuh kontradiksi, dan ditentukan oleh kondisi material masyarakat.
Baca Juga:3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan Silaturrahim
Sayangnya, cara berpikir semacam ini semakin menjauh dari pola pikir mahasiswa hari ini yang kerap terjebak pada kritik instan, ahistoris, dan individualistik.
Secara genealogis, dialektika bukanlah konsep yang jatuh dari langit. Socrates telah lebih dahulu memperkenalkan dialektika sebagai metode bertanya, menggugat, dan membongkar kontradiksi dalam pikiran manusia.
Dialektika Socrates berangkat dari dialog, dari ketegangan antara tesis dan antitesis, untuk menemukan kebenaran yang lebih rasional. Namun, dialektika pada tahap ini masih bergerak di wilayah ide dan kesadaran individu.
Friedrich Hegel kemudian membawa dialektika ke tingkat yang lebih sistematis. Menurut Hegel, sejarah adalah proses rasional di mana ide bergerak melalui kontradiksi menuju sintesis yang lebih tinggi.
Sejarah, dalam pandangan ini adalah perkembangan kesadaran. Namun, dialektika Hegel masih bersifat idealistik, yang dimana realitas material ditempatkan sebagai manifestasi dari ide, bukan sebaliknya.
Karl Marx melakukan pembalikan radikal. Dialektika “dibumikan”. Bagi Marx, bukan kesadaran yang menentukan kehidupan sosial, melainkan kondisi material, dimana meliputi relasi produksi, struktur ekonomi, dan kepentingan kelas yang membentuk kesadaran manusia.
Inilah materialisme dialektika historis. Sejarah bergerak melalui konflik material antar kelas, dan perubahan sosial lahir dari kontradiksi nyata dalam struktur masyarakat.
Pemikiran ini menegaskan bahwa teori tanpa praksis hanyalah kemewahan intelektual.
Baca Juga:Review Buku Mitos Sisifus Albert Camus dalam Kehidupan MahasiswaTanggapan atas Catatan Arga Rasya Putra & Lubis Ardani, Dinamika Intelektual Mahasiswa Mulai Tumbuh
Bung Karno mengambil dialektika materialis ini dan mengolahnya dalam konteks Indonesia.
Ia tidak menjadikan materialisme dialektika historis sebagai doktrin beku, melainkan sebagai alat baca realitas bangsa terjajah.
Penjajahan, bagi Bung Karno, bukan semata persoalan politik, melainkan persoalan ekonomi dan struktur sosial.
