Rakyat miskin atau kaum Marhaen bukan karena malas, tetapi karena sistem kolonial yang memiskinkan.
Dari pembacaan material inilah Bung Karno membangun kesadaran nasional yang revolusioner, bahwa kemerdekaan sejati adalah pembongkaran struktur ketidakadilan.
Di sinilah kontras dengan pola pikir mahasiswa hari ini menjadi terang. Banyak mahasiswa mengaku kritis, tetapi kritiknya sering berhenti pada gejala.
Baca Juga:3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan Silaturrahim
Ketidakadilan dipahami sebagai persoalan moral, bukan struktural. Pendidikan mahal dikeluhkan, tetapi logika komersialisasi pendidikan jarang disentuh secara mendalam.
Aktivisme direduksi menjadi agenda seremonial, diskusi menjadi konsumsi wacana, dan sejarah menjadi kutipan tanpa refleksi material.
Krisis utama mahasiswa hari ini bukanlah krisis intelektual, melainkan krisis kesadaran historis.
Tanpa cara berpikir dialektis, mahasiswa mudah terjebak pada fragmentasi isu dan kehilangan peta besar perjuangan sosial.
Tanpa materialisme, kritik berubah menjadi idealisme kosong yang tidak menyentuh realitas rakyat.
Bung Karno telah lama mengingatkan bahwa intelektual yang tercerabut dari rakyat hanya akan menjadi penonton sejarah, bukan penggeraknya.
Materialisme dialektika historis menuntut keberanian berpihak. Ia menolak netralitas semu. Ia memaksa mahasiswa bertanya, di pihak mana pengetahuan ini bekerja?
Baca Juga:Review Buku Mitos Sisifus Albert Camus dalam Kehidupan MahasiswaTanggapan atas Catatan Arga Rasya Putra & Lubis Ardani, Dinamika Intelektual Mahasiswa Mulai Tumbuh
Untuk kepentingan siapa kritik ini disuarakan? Tanpa pertanyaan-pertanyaan tersebut, mahasiswa hanya akan menjadi produk sistem yang dikritiknya secara verbal, tetapi dipeluk secara praksis.
Pada akhirnya, materialisme dialektika historis bukan sekadar kerangka teori, melainkan kompas ideologis bagi mahasiswa untuk membaca dan mengubah realitas.
Jalan keluar dari krisis kesadaran mahasiswa hari ini tidak terletak pada penambahan wacana, tetapi pada keberanian menghubungkan pengetahuan dengan kondisi material rakyat dan kontradiksi sosial yang nyata.
Mahasiswa harus kembali menempatkan diri sebagai subjek sejarah, membangun kesadaran kolektif, dan menjadikan kampus sebagai basis produksi gagasan sekaligus praksis perubahan.
Tanpa keberpihakan ideologis yang tegas, kritik akan terus jinak dan mudah diserap system.
Akan tetapi dengan cara berpikir dialektis dan historis yang hidup, mahasiswa dapat kembali menjadi kekuatan transformatif yang tidak hanya memahami zaman, melainkan ikut menentukan arah sejarahnya.
*) Penulis adalah aktivis GMNI Cabang Pekalongan, Mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan.
