Temuan lain menunjukkan bahwa musik tidak hanya mempengaruhi suasana hati saja, tetapi juga dapat membawa seseorang untuk kembali ke masa lalu dan bernostalgia.
Hal ini akan membawa seseorang pada perasaan terkait pengalaman pribadi sehingga menimbulkan beberapa gejolak emosi, seperti bahagia, sedih sekaligus.
Selain itu, musik juga mempertimbangkan pada aspek budaya dan neurologis dalam menelaah pengaruh musik.
Baca Juga:Materialisme Dialektika Historis ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026
Dari sudut pandang neurologis, musik dapat merangsang pelepasan hormon endorfin, serotonin, dan dopamine yang berpengaruh pada peningkatan suasana hati, serta hormon kortisol yang dapat mengurangi rasa stres.
Hormon-hormon tersebut bekerja dengan melibatkan sistem limbik, yang terhubung dengan pusat emosi otak dan memicu perasaan relaksasi melalui stimulasi hipotalamus.
Sedangkan pada aspek budaya adalah sudut pandang seseorang dalam merespon musik.
Dalam konteks kebudayaan, musik menjadi suatu hal yang personal dan memiliki nilai emosional karena membawa nilai budaya yang tercipta sebagai bahan pengajaran yang sudah ada sejak turun temurun.
Musik juga dapat menjadi salah satu alat intervensi dalam konteks klinis. Penelitian menyebutkan bahwa musik dapat mengobati gangguan tidur, kecemasan, dan depresi.
Penelitian neurologis menunjukkan bahwa komponen-komponen yang ada dalam musik secara kolektif memicu respon limbik yang lebih kuat.
Hipokampus yang memiliki peran dalam ingatan emosional mampu mengaktifkan ingatan positif terhadap jenis musik yang disukai. Hal ini membantu mengurangi kecemasan dan memperkuat regulasi emosi yang positif.
Baca Juga:Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan SilaturrahimReview Buku Mitos Sisifus Albert Camus dalam Kehidupan Mahasiswa
Aktivasi hipokampus menunjukkan bahwa musik dapat menjadi bentuk pengembangan keterampilan koping melalui ingatan emosional positif.
Dalam konteks pendidikan, musik dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi, kreativitas, dan motivasi belajar.
Dengan mendengarkan musik, seseorang akan terhindar dari rasa bosan yang kadang kala berlanjut kepada datangnya rasa kantuk.
Mendengarkan musik dengan irama lambat akan menurunkan pelepasan katekolamin ke dalam pembuluh darah.
Musik dalam pendidikan tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sarana untuk mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan emosional pada siswa.
Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa siswa yang mengikuti kelas musik mampu meregulasi emosi dan memiliki keterampilan sosial yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka.
