RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan resmi menaikkan status bencana menjadi tanggap darurat menyusul kian meluasnya dampak banjir di wilayah tersebut. Penetapan ini dilakukan secara langsung oleh Wali Kota Pekalongan, A Afzan Arslan Djunaid, untuk mempercepat mobilisasi bantuan.
Langkah hukum ini diambil agar Pemkot memiliki payung hukum yang kuat dalam menggunakan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT). Dengan cairnya dana tersebut, kendala keterbatasan logistik di Dinas Sosial maupun BPBD diharapkan dapat segera teratasi.
“Semalam saya sudah tetapkan Kota Pekalongan dalam status tanggap darurat,” ujar Wali Kota yang akrab disapa Aaf tersebut, Minggu (18/1/2026).
Baca Juga:Banjir Rendam 90 Rumah di Desa Pait Pekalongan, Puluhan Warga Mengungsi ke Mess Pabrik LokatexRel Pekalongan-Sragi Terendam Banjir, KAI Batalkan Belasan Perjalanan Kereta Api, Ini Daftar KA Terdampak
Kapasitas Dapur Umum Kewalahan
Aaf menjelaskan, tanpa status tanggap darurat, ruang gerak anggaran pemerintah sangat terbatas untuk merespons permintaan bantuan yang membeludak. Saat ini, warga mulai banyak yang mengeluhkan kekurangan nasi bungkus dan kebutuhan dasar lainnya secara langsung kepada pihak berwenang.
Peningkatan status ini juga didasari oleh melonjaknya jumlah warga yang meninggalkan rumah. Data sementara mencatat angka pengungsi telah menembus ribuan jiwa dan diprediksi akan terus meningkat seiring kondisi cuaca yang belum menentu.
“Yang tercatat sekarang sekitar 2.000 orang, tapi ini masih terus bertambah. Banyak warga yang langsung WA saya, datang ke Dinsos, ke BPBD, minta bantuan nasi bungkus dan logistik, dan kita kewalahan,” tambahnya.
Tanggul Kali Bremi Jebol, Pompa Tak Maksimal
Kondisi banjir di Kota Batik ini kian pelik setelah tanggul di wilayah Tirto, tepatnya di aliran Kali Bremi, dilaporkan jebol. Akibatnya, sistem pompanisasi yang menjadi tumpuan utama penanganan genangan tidak dapat berfungsi optimal. Bahkan, posisi air yang sangat tinggi mengancam keamanan trafo di rumah pompa.
“Tanggul jebol juga di daerah Tirto, Kali Bremi, jadi belum memungkinkan pompa itu bekerja maksimal,” jelas Aaf.
Saat ini, dapur umum telah didirikan di Kantor Dinsos P2KB dengan dukungan tambahan dari Kodim setempat. Meski demikian, penyediaan rata-rata 1.500 porsi makanan per sesi makan dirasa masih perlu ditingkatkan mengingat persebaran pengungsi yang sangat luas.
