RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Pekalongan bergerak cepat melakukan penanganan terpadu terhadap banjir besar yang mengepung Kota Batik. Fokus utama tidak hanya pada evakuasi warga, tetapi juga percepatan proyek infrastruktur permanen yang didukung anggaran pusat.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memutus rantai banjir di wilayah barat. Salah satunya melalui alokasi anggaran sebesar Rp50 miliar dari Pemerintah Pusat.
“Itu sudah dianggarkan dari pusat, dari informasi BBWS ada Rp50 miliar, tapi memang ini belum dikerjakan. Di tahun 2026 insyaallah akan kita kerjakan. Harapannya tidak terulang lagi banjir yang ada di Pekalongan Barat ini dan sekitarnya,” ujar Wagub Taj Yasin saat meninjau pengungsi banjir di Masjid Al-Karomah, Kota Pekalongan, pada Senin (19/1/2026).
Baca Juga:DPRD Batang Sentil Minimnya Sosialisasi Proyek Jargas Gringsing, Progres 83% Tapi Dewan Tak DilibatkanBupati Pekalongan Fadia Arafiq Teken Komitmen Ketahanan Pangan Jateng 2026, Siap Jaga Lumbung Pangan
Selain rencana pekerjaan pengendalian banjir dan rob di Sungai Bremi, Taj Yasin menekankan pentingnya perbaikan teknis pada tanggul-tanggul yang saat ini masih bersifat darurat. Ia mengakui bahwa beberapa titik pemicu banjir berada di bawah kewenangan provinsi.
“Kami sudah instruksikan penghitungan teknis agar penanganan tanggul bisa dipercepat. Fokus jangka pendek kita saat ini adalah memastikan warga aman, terutama lansia, anak-anak, dan warga berkebutuhan khusus,” tambahnya.
Wali Kota Pekalongan, H.A Afzan Arslan Djunaid, menyebut banjir kali ini memiliki karakteristik unik. Meski jumlah kelurahan yang terendam menyusut dari 20 kelurahan (pada 2021) menjadi 8 kelurahan pada awal 2026 ini, namun dampak luapan air di wilayah tertentu justru lebih parah.
“Pekalongan Utara sudah berkurang 80 persen, Timur 50 persen. Tapi di wilayah Barat, khususnya aliran Sungai Bremi dan Meduri, dampaknya luar biasa karena memang belum ada penanganan khusus (permanen),” jelas Wali Kota yang akrab disapa Aaf tersebut.
*) Gandeng 20 Dapur SPPG
Aaf menambahkan, untuk mencukupi kebutuhan pangan sekitar 2.400 pengungsi, Pemkot Pekalongan melakukan langkah inovatif dengan menggandeng 20 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Setiap SPPG mampu menyuplai sekitar 300 porsi makanan per hari di luar jatah rutin siswa. Aaf menegaskan bahwa bantuan ini merupakan aksi tanggap darurat yang disalurkan satu pintu melalui Dinas Sosial.
