RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Lembaga Falakiyah (LF) PCNU Kota Pekalongan secara resmi menginformasikan bahwa awal bulan Sya’ban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Keputusan ini merujuk pada hasil rukyatul hilal nasional yang berhasil mengonfirmasi kemunculan bulan sabit muda, meski kondisi cuaca di pantauan lokal tertutup mendung.
Pemantauan hilal di tingkat daerah telah dilaksanakan pada Senin sore, 19 Januari 2026, bertempat di Lantai 3 Gedung Aquarium, Kawasan Wisata Bahari PPNP (Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan). Namun, faktor alam menjadi kendala utama tim ahli falak di lokasi tersebut.
Ketua LF PCNU Kota Pekalongan, KH Idham Arief, mengungkapkan bahwa tebalnya awan di ufuk barat menghalangi pandangan petugas saat matahari terbenam.
Baca Juga:Ribuan Hektare Sawah di Kendal Terendam Banjir, Padi Usia Muda Terancam Gagal Tumbuh, Petani Merugi!Banjir Pekalongan Rendam 150 Sekolah, Dindik Izinkan Siswa Belajar di Rumah dan Libur Situasional
“Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi Gedung Aquarium, hilal tidak terlihat atau ghairu mar’i karena kondisi cuaca. Ufuk barat tertutup mendung tebal saat matahari terbenam,” ujar KH Idham saat memberikan keterangan resmi, Selasa (20/1/2026).
Mengacu pada Wilayatul Hukmi
Meski di Pekalongan hilal tak terlihat, KH Idham menjelaskan bahwa awal bulan tetap ditetapkan berdasarkan laporan keberhasilan rukyat dari titik lain di Indonesia. Salah satunya adalah laporan dari Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Sukabumi, Jawa Barat, yang berhasil melihat hilal dengan jelas.
Sesuai dengan prinsip wilayatul hukmi dalam kaidah fiqih, keberhasilan rukyat di satu wilayah berlaku untuk seluruh wilayah hukum di Indonesia.
“Alhamdulillah, informasi yang kami terima menyebutkan hilal berhasil terlihat di POB Cibeas. Sesuai kaidah fiqih, jika hilal terlihat di satu titik, maka berlaku untuk seluruh wilayah. Dengan demikian, 1 Sya’ban 1447 H dimulai pada Selasa,” jelasnya.
Persiapan Menuju Ramadan 1447 H
Menyambut bulan Sya’ban yang merupakan “pintu gerbang” menuju bulan suci, KH Idham Arief mengimbau warga Nahdlatul Ulama, khususnya di Kota Batik, untuk mulai meningkatkan amal ibadah. Namun, terkait penentuan awal puasa Ramadan, ia menekankan pentingnya satu komando di bawah organisasi.
LF NU Pekalongan menginstruksikan seluruh warga untuk tidak mendahului keputusan resmi mengenai pelaksanaan salat Tarawih dan awal puasa. Keseragaman langkah ini dinilai penting untuk menjaga kekhidmatan umat.
