Beberapa dampak dari pembelian emas oleh bank sentral meliputi:
- Penyerapan pasokan emas global secara signifikan
- Penurunan ketersediaan emas di pasar terbuka
- Penguatan persepsi emas sebagai aset cadangan strategis
Selain itu, arus dana ke ETF emas juga meningkat lebih dari 20 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat investor institusional terhadap emas terus tumbuh, didorong oleh inflasi dan defisit fiskal global.
Ketidakseimbangan Supply dan Demand di Indonesia
Di tingkat nasional, pemicu harga emas semakin meningkat juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan permintaan domestik.
Produksi emas dari Freeport yang terbatas sekitar 25 ton per tahun membuat pasokan tidak mampu mengimbangi permintaan.
Baca Juga:Harga Emas Akhir Bulan Januari Diprediksi Naik Tajam! Ini Sinyal Penting untuk InvestorInvestasi Emas atau Investasi Saham: Mana yang Lebih Untung untuk Pemula di Tahun 2026?
Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan bea ekspor emas sebesar 7,5 hingga 15 persen untuk menjaga ketersediaan dalam negeri. Kebijakan ini secara tidak langsung meningkatkan harga emas domestik.
Selain itu, permintaan investasi emas dari generasi muda juga terus meningkat, seiring kemudahan akses pembelian emas digital dan kesadaran akan pentingnya aset lindung nilai.
Secara keseluruhan, pemicu harga emas semakin meningkat berasal dari kombinasi faktor global dan nasional yang saling menguatkan.
Ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, permintaan agresif bank sentral, serta ketidakseimbangan supply-demand menciptakan momentum bullish yang berkelanjutan.
Selama faktor-faktor tersebut masih berlangsung, harga emas berpotensi tetap berada dalam tren naik.
Bagi kamu yang mempertimbangkan emas sebagai instrumen investasi, memahami pemicu kenaikan ini menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan.
