RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Bencana banjir yang dipicu curah hujan ekstrem di Kabupaten Kendal tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga memukul sektor pertanian. Ribuan hektare lahan sawah produktif di berbagai kecamatan dilaporkan terendam air, mengancam keberlangsungan masa tanam awal tahun ini.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal mencatat, mayoritas lahan yang terendam merupakan tanaman padi yang baru saja memasuki fase awal pertumbuhan atau usia muda. Kondisi ini membuat para petani di wilayah Pantura Jawa Tengah tersebut dibayangi ketakutan akan kegagalan panen masal.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapringat Rogojati, mengungkapkan bahwa genangan air yang menutupi tunas padi dalam waktu lama dapat memicu pembusukan akar secara permanen.
Baca Juga:DPRD Kendal Desak Pemkab Tangani Banjir Secara Serius, Jangan Sampai Jadi Agenda Rutin Tahunan!Dinkes Kota Pekalongan Tekankan Pengawasan Internal Dapur SPPG: Pastikan Keamanan Pangan Berstandar SLHS
“Total ada 1.444 hektare lahan sawah yang baru ditanami padi dan kini terendam banjir di sejumlah kecamatan. Padi usia muda sangat rentan. Kalau terendam terlalu lama, dampaknya bisa serius bagi hasil produksi petani,” ujar Pandu saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).
Sebaran Wilayah Terdampak: Rowosari Paling Parah
Berdasarkan pendataan DPP Kendal, Kecamatan Rowosari menjadi wilayah dengan kerugian lahan terluas mencapai 512 hektare. Disusul oleh Kecamatan Brangsong seluas 407 hektare dan Kecamatan Ngampel 177 hektare.
Selain tanaman padi, banjir juga mulai merusak sektor hortikultura. Di Kecamatan Pegandon, luapan air dilaporkan telah merendam sedikitnya 4 hektare lahan bawang merah yang siap rawat.
Berikut rincian sebaran lahan sawah terendam di Kendal:
- Rowosari: 512 Ha
- Brangsong: 407 Ha
- Ngampel: 177 Ha
- Patebon: 141 Ha
Kecamatan Lainnya: (Kendal, Kaliwungu, Pegandon, Cepiring, dan Weleri)
Upaya Bantuan Bibit dan Mitigasi
Pemerintah Kabupaten Kendal bergerak cepat dengan melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan data kerugian secara akurat. Data ini nantinya akan dikirimkan ke Kementerian Pertanian di Jakarta guna mendapatkan alokasi bantuan darurat.
Pandu menegaskan bahwa fokus utama dinas saat ini adalah memastikan petani memiliki modal untuk menanam kembali setelah air surut.
“Kami akan mengajukan bantuan bibit padi untuk petani yang terdampak banjir, agar aktivitas tanam bisa kembali dilakukan setelah kondisi memungkinkan. Pendampingan petani dan percepatan penanganan pascabanjir menjadi fokus kami saat ini,” tegasnya.
