RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Beragam cara dilakukan untuk memperingati peristiwa besar Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, SDIT Muhammadiyah Truko memilih pendekatan edukatif yang unik dengan menggelar pawai payung hias dan program sodaqoh massal pada Selasa, 20 Januari 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh ratusan siswa berbaju putih ini bertujuan untuk menanamkan nilai kedermawanan sekaligus mengasah kreativitas. Para siswa mengumpulkan makanan ringan dari rumah untuk kemudian dibagikan secara acak kepada rekan sejawat serta warga di sekitar lingkungan sekolah di Kecamatan Kangkung.
Kepala SDIT Muhammadiyah Truko, M. Fajrinsyah, menjelaskan bahwa penggunaan payung sebagai media kreativitas disesuaikan dengan kondisi cuaca saat ini.
Baca Juga:Ribuan Hektare Sawah di Kendal Terendam Banjir, Padi Usia Muda Terancam Gagal Tumbuh, Petani Merugi!Banjir Pekalongan Rendam 150 Sekolah, Dindik Izinkan Siswa Belajar di Rumah dan Libur Situasional
“Selain membawa makanan sodaqoh, siswa juga diminta membawa payung yang dihias sendiri. Mengingat saat ini musim hujan, payung menjadi simbol sekaligus media kreativitas,” ujar Fajrinsyah di sela-sela kegiatan.
Kolaborasi Anak dan Orang Tua
Hiasan pada payung-payung tersebut tampil mencolok; mulai dari ornamen sederhana hingga rangkaian payung yang dimodifikasi menyerupai buket bunga raksasa. Fajrinsyah menekankan bahwa proses menghias payung ini merupakan sarana komunikasi antara anak dan orang tua di rumah.
“Kreasi payung hias ini melatih siswa untuk berkomunikasi, berkoordinasi, dan berkolaborasi bersama orang tua,” tambahnya. Salah satu siswa, Razzaq, mengaku bangga menunjukkan hasil karyanya yang dikerjakan bersama sang ayah.
Filosofi Perjalanan di Atas Awan
Puncak acara ditandai dengan jalan gembira melewati tiga dusun di sekitar sekolah. Sambil membawa payung hias dan melintasi hamparan sawah hijau, para siswa diajak memaknai sejarah perjalanan agung Rasulullah.
Ustadz Lutfi Khakim Irsada menjelaskan, payung hias tersebut digunakan sebagai alat peraga imajinatif bagi para siswa agar lebih meresapi makna Isra Mikraj.
“Di bawah payung hias, siswa diajak berfantasi seolah berjalan di angkasa, sebagaimana perjalanan Isra Mikraj,” jelas Ustadz Lutfi.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini murni merupakan media dakwah kreatif untuk menumbuhkan karakter ikhlas dan rasa syukur pada diri siswa sejak dini. Meskipun cuaca mendung menyelimuti wilayah Kangkung, antusiasme siswa tidak surut hingga garis finis di sekolah. (fur)
