RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Insiden ambruknya bangunan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Batang pada Rabu (21/1/2026) pagi memicu kekhawatiran serius mengenai kondisi infrastruktur pendidikan khusus di wilayah tersebut. Robohnya bekas ruang keterampilan menjahit ini seolah membuka tabir banyaknya ruang kelas lain yang kini dalam kondisi tidak layak pakai.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.30 WIB di area belakang sekolah saat cuaca terpantau normal. Meski gedung yang ambruk sudah dikosongkan sejak lama, dampak dari kejadian ini mengungkap fakta bahwa sebagian besar bangunan sekolah merupakan peninggalan era 1980-an yang belum pernah mendapatkan renovasi total.
Kepala SLB Batang, Buntas Ernawati, menceritakan momen mencekam saat dirinya mendengar suara keras dari arah bangunan yang roboh tersebut.
Baca Juga:HNSI Batang Tolak Kapal Nelayan Jadi Kambing Hitam Penyebab Banjir, Desak Solusi Penanganan KomprehensifRutan Pekalongan Luncurkan Kartu Prestasi Santri, Pantau Progres WBP Belajar Ngaji dan Hafal Quran
“Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Awalnya saya mengira anak-anak menjatuhkan matras olahraga. Setelah diperiksa, ternyata bangunan sudah roboh seluruhnya,” ujar Buntas saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.
Persoalan Keselamatan dan Ruang Kelas yang Dikosongkan
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini karena gedung tersebut tidak lagi digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Namun, persoalan belum selesai. Buntas mengungkapkan bahwa sejumlah ruang kelas untuk jenjang SD kelas 1, 5, dan 6 juga terpaksa dikosongkan karena plafon yang mulai rontok dan struktur bangunan yang membahayakan 330 siswa di sekolah tersebut.
“Ruang-ruang itu terpaksa kami kosongkan karena kondisi bangunan sudah tidak aman untuk digunakan,” jelas Buntas lebih lanjut.
Kendala utama perbaikan selama ini terletak pada dualisme birokrasi aset. Lahan sekolah merupakan milik Pemerintah Kabupaten Batang, sementara kewenangan pengelolaan SLB secara administratif berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Langkah Pemerintah Daerah: Percepatan Hibah Lahan
Wakil Bupati Batang, Suyono, langsung turun ke lapangan untuk memastikan keselamatan siswa dan meninjau lokasi reruntuhan. Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menjamin proses belajar mengajar tetap berlangsung tanpa risiko.
“Kami memastikan tidak ada korban dan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan aman. Siswa untuk sementara digabungkan dengan kelas lain,” tutur Suyono.
