RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Menghadapi tantangan degradasi moral dan maraknya kasus perundungan (bullying) di kalangan pelajar, madrasah di Kabupaten Kendal melakukan terobosan besar. Melalui “Kurikulum Berbasis Cinta” (KBC), institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama ini bertekad melakukan revolusi mental yang dimulai dari hati.
Langkah ini diawali dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diikuti oleh puluhan Kepala Madrasah dan guru se-Kabupaten Kendal selama empat hari, 17–20 Januari 2026. Bertempat di Aula Kantor Kemenag Kendal, para pendidik digembleng untuk mengubah pola pendekatan dari sekadar transfer ilmu menjadi pendekatan kasih sayang yang humanis.
Kepala Kankemenag Kendal, Zainal Fatah, menegaskan bahwa KBC merupakan implementasi nyata dari KMA 1503 Tahun 2025. Ia meyakini bahwa karakter dan moral yang kuat adalah benteng utama bagi generasi muda agar tidak terjerumus dalam pelanggaran hukum maupun norma sosial.
Baca Juga:Menhub Cek Jalur Rel Pekalongan yang Terendam Banjir, PT KAI Bakal Tinggikan Rel 50 Cm Demi KeamananHindari Jalan Berlubang, Pelajar SMK di Pekalongan Tewas Kecelakaan Usai Tabrak Mobil dari Lawan Arus
“Kita berharap anak-anak madrasah menjadi generasi dengan karakter dan moral kuat, sehingga tidak tergelincir dalam perbuatan yang melanggar norma dan hukum. Akhlak yang baik menjadi benteng kokoh menghadapi godaan negatif,” ujar Zainal Fatah dengan lugas, Selasa (20/1/2026).
Kepala Madrasah Sebagai Motor Perubahan
Zainal juga mengingatkan para kepala madrasah untuk menciptakan ekosistem kerja yang sehat. Lingkungan yang nyaman di sekolah dinilai akan menularkan energi positif kepada para guru, yang kemudian akan berdampak langsung pada cara mereka memperlakukan siswa di dalam kelas.
“Kepala madrasah harus mampu mewujudkan lingkungan yang nyaman untuk bekerja. Tempat yang nyaman akan memberikan energi positif, dan lingkungan yang baik menjadi sarana efektif menumbuhkan etos kerja,” tambahnya.
Menyentuh Hati, Membuka Gerbang Ilmu
Pendekatan KBC ini disambut antusias oleh para pendidik. Banyak guru yang merasa tersadar bahwa selama ini kesibukan administrasi seringkali membuat mereka mengabaikan aspek emosional siswa.
Ahmad Furkon, guru MTs Muhammadiyah Ngargosari Sukorejo, mengakui bahwa materi Bimtek ini menjadi refleksi mendalam bagi profesinya. Ia menyadari bahwa senyuman dan ketulusan guru adalah kunci utama keberhasilan pendidikan.
“Seringkali karena tuntutan administrasi yang menumpuk, kami lupa tersenyum pada siswa. Bimtek ini mengingatkan kami bahwa tugas utama adalah menyentuh hati mereka. Jika hati terbuka, ilmu akan jauh lebih mudah masuk,” ungkap Furkon penuh haru.
