Oleh Aqibul Muttaqin
RADARPEKALONGAN.ID – Saya sering bertanya-tanya: mengapa kisah Isra Mikraj tidak pernah benar-benar selesai diceritakan?
Peristiwanya satu. Waktunya singkat. Tokohnya jelas. Namun tafsirnya terus bertambah, dari abad ke abad, dari lisan ke lisan, dari kitab ke kitab.
Seolah Mikraj bukan hanya perjalanan Nabi, tetapi juga perjalanan cara berpikir manusia.
Baca Juga:Catatan untuk Saudara Ahnaf tentang MDH ala Bung KarnoMengapa Mendengarkan Musik Mempengaruhi Suasana Hati Manusia?
Pada awalnya, Mikraj hanyalah kisah. Ia diceritakan, didengar, lalu diulang. Belum rapi, belum sistematis. Justru di situlah ia hidup.
Nama Ḍaḥḥak ibn Muzaḥim sering muncul sebagai perawi awal dari Ibn ʿAbbas. Versinya masih cair. Kadang terasa berlebihan, kadang tampak janggal. Seperti cerita yang baru lahir dan belum sempat dirapikan.
Itu wajar. Saat itu, ingatan umat Islam masih dekat dengan masa Nabi. Cerita lebih penting daripada kerangka. Imajinasi berjalan lebih cepat daripada pembukuan.
Kemudian muncullah para penyusun. Ibn Isḥaq tidak sekadar mencatat, tetapi menyusun. Mikraj mulai memiliki urutan, waktu, dan struktur.
Muḳatil ibn Sulayman melangkah lebih jauh. Ia memenuhi langit dengan makhluk-makhluk ajaib. Tafsirnya banyak dikritik, terlalu fantastis, kata sebagian orang. Namun justru karena itulah kisahnya digemari.
Tak lama, Mikraj berdiri sebagai kisah tersendiri, bukan lagi sekadar bagian dari sirah. Hisham ibn Salim menulis Kitab al-Mikraj. Di titik ini, Mikraj mulai memuat kepentingan: teologis, politis, bahkan ideologis.
Abad ke-9 menjadi masa penyaringan. Ibn Hisham menyusun ulang. Ibn Sa’d bahkan memisahkan Isra dan Mikraj, seakan memberi jarak agar makna tidak terlalu bertumpuk.
Baca Juga:Materialisme Dialektika Historis ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026
Al-Bukhari dan Muslim lebih ketat lagi. Narasi dipersingkat, imajinasi dibatasi. Yang ditonjolkan adalah fungsi normatifnya: kewajiban salat lima waktu.
Namun tidak semua merasa cukup. Al-Tirmidhi masih mencatat dialog-dialog yang lebih personal. Dalam tradisi Syiah, Mikraj menjadi panggung kosmik untuk menegaskan legitimasi Ali dan para Imam. Langit pun ikut berbicara soal otoritas.
Yang menarik, bahkan mereka yang menolak kisah Mikraj tetap harus menuliskannya. Ibn Ḥibban mencatat versi-versi panjang hanya untuk menyatakan bahwa semuanya palsu. Penolakan pun membutuhkan teks. Mikraj terlalu penting untuk diabaikan.
