Di sisi lain, para pelaku usaha mikro turut merasakan dampak dari fluktuasi ini. Abdul Salim, seorang pengusaha petelur rumahan, menyebut ketidakseimbangan pasokan antarwilayah membuat posisi peternak kecil sangat rentan.
“Produksi memang banyak, tapi distribusinya tidak merata. Di satu daerah harga bisa jatuh, sementara di daerah lain justru mahal. Saat harga turun, biaya produksi tidak ikut turun. Petelur rumahan seperti kami keuntungannya jadi sangat tipis,” pungkas Salim.
Pemerintah kini dituntut untuk melakukan intervensi distribusi secara masif guna memastikan surplus produksi telur dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia tanpa terkendala sekat geografis. (fur)
