RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Bencana banjir yang kembali merendam sejumlah titik di Kota Pekalongan mulai melumpuhkan sektor pendidikan, khususnya pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Puluhan satuan pendidikan dilaporkan terdampak genangan air, sehingga memaksa pihak sekolah mengalihkan kegiatan belajar mengajar (KBM) demi keselamatan para siswa.
Berdasarkan data terbaru, wilayah Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara menjadi kawasan dengan tingkat kerusakan fasilitas pendidikan paling tinggi. Tercatat puluhan lembaga harus memutar otak agar materi pembelajaran tetap tersampaikan meski gedung sekolah tidak dapat digunakan.
Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Pekalongan, Mustaqimah, merinci persebaran sekolah yang terdampak berdasarkan laporan lapangan para tenaga pendidik.
Baca Juga:Waspada Bakteri! Dinkes Pekalongan Beri Tips Olah Air Minum Agar Aman Dikonsumsi Seluruh KeluargaTanggul Kalibodri Sepanjang 150 Meter Kritis, Warga Cepiring Kendal Gotong Royong Tangani Secara Darurat
“Di Kecamatan Pekalongan Barat terdapat 23 lembaga PAUD yang terdampak, sementara di Pekalongan Utara ada 5 lembaga. Untuk wilayah Pekalongan Timur tercatat satu lembaga, yakni PAUD Cempaka Sari, sedangkan wilayah Pekalongan Selatan dilaporkan nihil,” ujar Mustaqimah, Selasa (27/1/2026).
Belajar Daring dan Ancaman Lumpur
Kondisi genangan yang cukup tinggi di area sekolah memaksa pengelola lembaga untuk meliburkan aktivitas tatap muka sementara waktu. Sebagai solusi alternatif, metode pembelajaran daring (dalam jaringan) kembali diterapkan agar stimulasi perkembangan anak tidak terhenti total selama masa bencana.
Meski beberapa sekolah dilaporkan sudah mulai mencoba melakukan pembersihan dan belajar tatap muka secara terbatas, kendala sisa material lumpur masih menjadi momok. Lumpur yang terbawa arus sungai seringkali merusak alat peraga edukatif (APE) serta sarana prasarana sekolah lainnya.
Mustaqimah menyebutkan bahwa para wali murid dan pendidik kini sangat mendambakan situasi segera kembali normal agar rutinitas anak-anak tidak terganggu.
Desakan Solusi Berkelanjutan
HIMPAUDI Kota Pekalongan secara resmi meminta pemerintah kota untuk tidak hanya memberikan bantuan darurat pascabencana, tetapi juga memikirkan solusi jangka panjang terkait infrastruktur drainase di sekitar lingkungan sekolah.
“Kami berharap ada penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan agar persoalan banjir ini tidak terus-menerus mengganggu proses pendidikan anak usia dini di Kota Pekalongan,” pungkas Mustaqimah.
