RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang mengambil langkah taktis guna menyudahi persoalan banjir yang bertahun-tahun menghantui lahan pertanian di Kecamatan Kandeman. Melalui pengerahan “Pasukan Got” (Pasgot), pemerintah daerah melakukan normalisasi besar-besaran di sepanjang aliran Kali Sono, Desa Depok.
Kali Sono selama ini menjadi titik krusial karena sering meluap akibat penyumbatan eceng gondok dan tumpukan sampah organik. Dampaknya tidak main-main; lahan pertanian di Desa Depok, Ujungnegoro, hingga Tegalsari kerap terendam, yang secara otomatis mengancam ketahanan pangan dan hasil panen warga.
Kepala DLH Kabupaten Batang, Rusmanto, menegaskan bahwa normalisasi ini merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, hingga pelaku industri besar di sekitar kawasan tersebut.
Baca Juga:Dana Desa Kumpulrejo 2026 Menyusut Tajam, Camat Patebon Desak Pemdes Fokus ke Pembangunan NonfisikMobil Operasional PLN Terjun ke Jurang 160 Meter di Lebakbarang Usai Diterjang Longsor, Sopir Selamat
“Saya ingin antara pemerintah, perusahaan dengan masyarakat ini terjalin hubungan yang saling menguntungkan. Jangan saling memanfaatkan,” ujar Rusmanto saat ditemui di kantornya, Selasa, 27 Januari 2026.
Dukungan Penuh Sektor Industri
Menariknya, aksi pembersihan ini mendapat sokongan langsung dari perusahaan besar seperti PT Primatex dan Sukorintex. Pihak swasta berkomitmen menanggung kebutuhan operasional serta konsumsi bagi warga dan petugas yang terjun ke lapangan.
Rusmanto merancang program ini agar tidak menjadi aksi seremonial belaka, melainkan agenda rutin berkelanjutan yang akan dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.
“Insyaallah nanti perusahaan siap nanggung uborampene (kebutuhan logistik). Kita minta dibersihkan semua, nanti untuk masalah konsumsi biar perusahaan yang menanggung,” tegasnya.
Menepis Isu Pencemaran dan Tegakkan Aturan
Dalam kesempatan tersebut, Rusmanto juga memberikan klarifikasi terkait keluhan warga mengenai air Kali Sono yang kerap berubah warna menjadi hitam. Ia meminta masyarakat, terutama kelompok tani, untuk lebih objektif dalam melihat fenomena lingkungan tersebut sebelum memberikan tudingan sepihak kepada industri.
“Jadi jangan mengkambing hitamkan ini pencemaran dari perusahaan. Padahal kadang-kadang Kali Sono ada hewan bebek lewat, airnya pas sedikit, bawahnya lumpur semua, daun eceng gondoknya busuk, dan plankton hitam di bawah,” jelas Rusmanto memberikan edukasi mengenai proses pembusukan alami di dasar sungai.
