RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Suasana ceria dan penuh semangat menyelimuti GOR Indoor Abirawa Batang pada Kamis (29/1/2026). Ratusan siswa sekolah dasar yang tergabung dalam Pramuka Siaga dari berbagai Kwartir Ranting (Kwarran) se-Kabupaten Batang berkumpul untuk mengikuti perhelatan akbar Pesta Siaga Kwartir Cabang (Kwarcab) Batang 2026.
Kegiatan yang menjadi ajang pertemuan besar bagi para pramuka cilik ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Batang, Suyono. Tercatat sekitar 300 peserta terlibat aktif, di mana setiap Kwarran mengirimkan dua barung (putra dan putri) terbaiknya untuk berkompetisi dan menjalin persaudaraan.
Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Batang, Retno Dwi Irianto, menjelaskan bahwa Pesta Siaga tahun ini bukan sekadar ajang bermain, melainkan wadah penguatan karakter bagi generasi masa depan.
Baca Juga:Persik Kendal Lolos 8 Besar Liga 4 Jateng, Ribuan Suporter Laskar Bahurekso Rayakan Kepulangan TimHarlah ke-58 MI Salafiyah Ngalian Pekalongan: Padukan Nilai Salaf dan Modernitas Demi Generasi Emas
“Temanya sesuai yang sudah ditentukan, yaitu giat, semangat, dan membangun karakter untuk masa depan generasi muda. Nanti akan kami pilih tiga barung terbaik putra dan putri untuk melaju ke tingkat Jawa Tengah di Brebes pada 7 Februari 2026,” tegas Retno Dwi Irianto di lokasi kegiatan.
Asah Lima Keterampilan Utama
Dalam Pesta Siaga kali ini, para peserta ditantang dalam lima jenis kegiatan utama yang dirancang secara edukatif dan menyenangkan. Materi lomba meliputi penguatan iman dan takwa, pengembangan kecerdasan, kerja sama organisasi, rasa kekeluargaan, hingga dorongan inovasi sesuai potensi masing-masing anak.
Retno menambahkan, pendampingan dari pembina sangat krusial agar setiap barung yang berisikan delapan peserta dapat menunjukkan kekompakan maksimal demi meraih tiket menuju tingkat Binwil (Pembantu Gubernur).
Bentengi Anak dari Dampak Negatif Medsos
Wakil Bupati Batang, Suyono, memberikan pesan mendalam terkait tantangan mendidik anak di era digital. Menurutnya, Pramuka Siaga yang rata-rata masih duduk di kelas bawah sekolah dasar berada pada fase meniru, sehingga sangat rentan terpapar pengaruh buruk media sosial jika tidak diawasi.
“Harapannya anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, cerdas, dan tangguh. Guru dan pembina harus memberi perlindungan agar anak-anak tidak kebablasan atau hanya meniru apa yang mereka lihat di media sosial. Mereka belum bisa memproteksi diri sendiri, jadi perlu diberikan konteks yang tepat,” ujar Suyono.
