RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Sektor pertanian di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Curah hujan tinggi yang memicu banjir sepanjang bulan ini telah merendam sedikitnya 1.600 hektare lahan persawahan di empat kecamatan, yakni Kaliwungu, Brangsong, Patebon, dan Rowosari.
Kondisi ini mengancam ketahanan pangan daerah menyusul laporan ratusan hektare tanaman padi yang sudah dipastikan gagal panen atau puso. Genangan air yang tak kunjung surut membuat akar padi membusuk, sehingga petani dipastikan kehilangan modal tanam mereka sepenuhnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, mengungkapkan bahwa angka lahan terdampak masih berpotensi terus membengkak mengingat cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung.
Baca Juga:Nelayan TPI Tawang Kendal Keluhkan Pembayaran Ikan Diutang Bakul, DKP Siapkan Solusi Gandeng PerbankanSiap Kerja! 50 Peserta Lulus Diklat Satpam Gada Pratama di Polres Pekalongan Kota, Ini Keunggulannya
“Data sementara yang masuk, tanaman padi terdampak banjir sekitar 1.600 hektar dan yang sudah dipastikan puso sekitar 304 hektar. Jumlah ini masih bisa bertambah karena kondisi banjir belum sepenuhnya tuntas,” tegas Pandu saat memberikan keterangan, Kamis (29/1/2026).
Andalkan Bantuan Pusat dan Provinsi
Persoalan pelik muncul karena APBD Kabupaten Kendal dilaporkan tidak memiliki alokasi khusus untuk bantuan bencana di sektor pertanian. Sebagai langkah darurat, DPP Kendal kini tengah berjuang melobi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pertanian untuk mendapatkan bantuan benih cadangan.
“Untuk bantuan, kami mengusulkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat. Di APBD Kendal memang belum ada anggaran bantuan dampak banjir untuk pertanian. Biasanya bantuan dari pusat baru turun dua sampai tiga bulan karena proses pengadaan dilakukan bersamaan dengan kabupaten lain,” jelas Pandu.
Petani Terjepit Kelangkaan Pupuk
Kondisi di lapangan diperparah dengan status pupuk subsidi yang sudah habis terpakai. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kendal, Haji Tardi, menekankan bahwa petani kini mengalami kerugian ganda.
Banyak petani yang baru saja selesai melakukan pemupukan sebelum banjir datang, sehingga jatah pupuk mereka tersapu air dan hilang sia-sia.
“Bentuk bantuan apa pun sangat dibutuhkan, tapi yang paling mendesak adalah benih dan pupuk. Banyak tanaman padi yang sudah dipupuk, artinya jatah pupuk bersubsidi sudah habis terpakai. Pemerintah harus segera turun tangan,” ujar Haji Tardi secara lugas.
