RADARPEKALONGAN.ID, KAJEN – Krisis kemanusiaan akibat banjir di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, memasuki fase mengkhawatirkan. Sudah dua pekan lamanya, empat desa yakni Desa Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo, terendam air akibat kombinasi puncak musim hujan, fenomena rob, dan jebolnya tanggul sungai.
Camat Tirto, Siswanto, melaporkan bahwa kondisi ini memaksa sedikitnya 1.600 jiwa meninggalkan rumah mereka dan kini tersebar di 17 titik pengungsian. Meski bantuan konsumsi telah didukung oleh Kementerian Sosial, kebutuhan medis di lapangan mulai menipis dan fasilitas sanitasi di posko pengungsian dinilai sudah tidak layak.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, H. Sumar Rosul, yang memimpin rapat koordinasi percepatan penanganan banjir, menekankan perlunya tindakan nyata dan terukur daripada sekadar koordinasi melalui pesan singkat.
Baca Juga:Hasil Liga 4 Jateng, Persik Kendal Takluk dari Persibangga di Kandang, Laskar Bahurekso Siap BalasPadel Court 99 Pekalongan Diresmikan, Fasilitas Standar Nasional Siap Cetak Atlet Berprestasi
“Pemerintah harus tegas menegaskan Perda Tata Ruang, termasuk terhadap bangunan di area sempadan sungai. Banjir adalah persoalan kemanusiaan yang membutuhkan tindakan nyata. Ada tiga prioritas operasional: pemerataan distribusi bantuan, optimalisasi pompa air, dan penjaminan layanan kesehatan warga terdampak,” tegas Sumar Rosul, Selasa (3/2/2026).
Krisis Sanitasi: Satu Toilet untuk Ratusan Orang
Dalam rapat yang dihadiri jajaran Inspektorat, BPBD, hingga kepala desa terdampak, terungkap bahwa kondisi kesehatan pengungsi mulai terancam. Fasilitas MCK menjadi keluhan utama karena beban pengguna yang berlebihan. Tercatat, satu unit toilet harus digunakan bergantian oleh ratusan orang, yang berisiko tinggi memicu penyebaran penyakit menular.
Sejumlah kepala desa juga melaporkan minimnya stok obat-obatan spesifik seperti salep kulit untuk kutu air, obat diare, selimut, hingga susu formula dan pakaian dalam untuk warga di pengungsian.
Fokus Penguatan Tanggul 24 Jam
Di sisi teknis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan tengah berfokus pada penguatan tanggul di aliran Sungai Sekaran dan Sungai Meduri. Ribuan karung pasir (sandbag) terus dikerahkan, dibarengi dengan pemantauan debit air secara nonstop.
BPBD memastikan stok logistik makanan masih aman untuk dua minggu ke depan, namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap informasi cuaca dari BMKG.
Sumar Rosul menambahkan bahwa persoalan banjir di Tirto tidak bisa dilepaskan dari masifnya alih fungsi lahan di sempadan sungai. Ia meminta pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga mulai berani melakukan penertiban bangunan ilegal di bantaran sungai guna mencegah bencana serupa berulang setiap tahun. (yon)
