RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mulai menyusun langkah strategis guna membendung potensi lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang bulan suci Ramadan. Salah satu skema utama yang disiapkan adalah penyelenggaraan pasar murah di sejumlah titik strategis untuk menjaga daya beli masyarakat.
Potensi kenaikan harga komoditas ini diprediksi akan diperparah oleh faktor cuaca ekstrem yang dapat mengganggu distribusi barang. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektoral kini diperketat untuk menjamin kelancaran pasokan dari hulu ke hilir.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Batang, Abu Hurairah, menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan harga komoditas yang paling rentan mengalami fluktuasi, seperti beras, cabai, dan telur ayam.
Baca Juga:Cegah Kepunahan, Dekranasda Batang Arsipkan 16 Motif Batik Rifa'iyah Berusia Ratusan Tahun ke KertasBunda PAUD Inggit Soraya Luncurkan Program Bercanda, Cara Unik Perkuat Literasi Anak di Pekalongan
“Perkiraan kami, Ramadan nanti masih masuk musim hujan dan berpotensi banjir. Karena itu, kami intens berkoordinasi dengan Bulog, Disperindagkop, dan Dishub agar distribusi komoditas tetap lancar. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga komoditas pokok berpotensi melonjak hingga 20–25 persen selama Ramadan,” ujar Abu Hurairah, Selasa (3/2/2026).
Harga Cabai Mulai Merangkak Naik
Pantauan di lapangan menunjukkan tren kenaikan harga sudah mulai dirasakan para pedagang dan konsumen. Di Pasar Batang, komoditas cabai menjadi yang paling menonjol kenaikannya. Ela, salah satu pedagang sayur, menyebutkan bahwa kenaikan terjadi akibat pasokan yang tersendat.
“Cabai rawit merah yang tadinya Rp 60.000 sekarang sudah Rp 80.000 per kilogram. Cabai rawit hijau dan cabai keriting juga naik di kisaran Rp 50.000. Biasanya cabai rawit merah bisa tembus Rp 100.000 per kilogram kalau permintaan tinggi dan pasokan tersendat saat puasa nanti,” ungkap Ela.
Sementara itu, harga telur ayam ras saat ini terpantau masih stabil di angka Rp 28.000 per kilogram. Namun, pedagang memperkirakan harga akan menyentuh Rp 32.000 saat memasuki bulan puasa mendatang.
Kekhawatiran Konsumen di Tengah Cuaca Ekstrem
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran bagi ibu rumah tangga. Waryumi, salah seorang pembeli, mengeluhkan tingginya biaya belanja harian yang kini sudah mendekati Rp 100.000 meski belum memasuki bulan Ramadan.
“Harapannya harga bisa ditekan. Mau puasa itu kan kebutuhan makan justru harus tercukupi, jangan sampai mahal semua. Belanja itu tidak mungkin dikurangi, malah biasanya nambah buat persiapan puasa,” tutur Waryumi.
