Akses Rejosari Batang Masih Tertutup Longsor, Warga Terisolasi dan Dipaksa Memutar Lewat Geodipa

Akses Rejosari Batang Masih Tertutup Longsor, Warga Terisolasi dan Dipaksa Memutar Lewat Geodipa
M. DHIA THUFAIL TURUN LANGSUNG - Bupati M. Faiz Kurniawan turun langsung meninjau wilayahnya di ujung selatan Batang yang terdampak longsor.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Bencana tanah longsor yang menerjang Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, masih menyisakan isolasi bagi warga setempat. Hingga saat ini, material longsoran masif terpantau masih menimbun akses jalan utama, memaksa mobilitas warga terganggu dan dialihkan ke jalur alternatif yang lebih jauh.

Dari dua jalur yang sempat lumpuh, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang melaporkan baru satu jalur yang berhasil dibuka untuk kendaraan. Sementara itu, jalur krusial yang menghubungkan Rejosari dan Pranten masih belum bisa dilalui sama sekali.

Kepala Bidang Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Batang, M. Fajeri, mengungkapkan bahwa warga kini harus menanggung tambahan waktu tempuh akibat pengalihan arus tersebut.

Baca Juga:Nasib Guru Honorer Batang Menggantung, PGRI Desak Gaji PPPK Dibiayai APBN Agar Daerah Tak Terbebani10 Anggota DPRD Kendal Absen di Musrenbang Ngampel, Warga Kecewa Aspirasi Tak Dikawal Wakil Rakyat

“Ada dua jalur yang tertimbun longsor. Satu jalur sudah bisa dilalui, yakni Rejosari via Geodipa. Sementara jalur Rejosari–Pranten sampai sekarang masih tertutup material longsoran. Kalau dari arah Bawang menuju Rejosari, sementara harus lewat jalur Geodipa dengan tambahan waktu tempuh sekitar 15 menit,” ujar Fajeri, Rabu (4/2/2026).

Kendala Cuaca dan Ancaman Longsor Susulan

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Batang telah mengerahkan dua unit ekskavator untuk mempercepat pembersihan material. Namun, tingginya intensitas hujan di wilayah pegunungan tersebut menjadi hambatan utama bagi petugas di lapangan.

“Kendala utama kami hujan yang masih turun dan potensi longsor susulan. Jadi pengerjaan harus ekstra hati-hati demi keselamatan petugas. Diperkirakan butuh waktu sekitar satu pekan lagi untuk menyelesaikan pembersihan total pada empat titik longsoran yang tersisa,” jelas Kepala DPUPR Batang, Endro Suryono.

Warga Bertahan di Pengungsian dan Rencana Huntara

Trauma akibat bencana membuat sebagian besar warga, terutama kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, enggan kembali ke rumah masing-masing. Mereka memilih bertahan di rumah kerabat sembari menunggu kepastian hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah daerah.

BPBD Batang kini gencar menyosialisasikan rencana relokasi ke lahan bengkok milik pemerintah desa yang dinilai lebih aman dari ancaman pergerakan tanah.

“Kami terus melakukan sosialisasi agar warga tidak kembali ke rumah lama yang rawan. Saat ini masih menunggu kelengkapan persyaratan pendirian huntara. Harapannya, warga bisa langsung pindah ke hunian sementara yang lebih aman,” tambah Fajeri.

0 Komentar