Pekalongan Dikepung Banjir dan Longsor, 52 Sekolah Terdampak Bencana Terpaksa Gelar Belajar Daring

Pekalongan Dikepung Banjir dan Longsor, 52 Sekolah Terdampak Bencana Terpaksa Gelar Belajar Daring
TRIYONO TERDAMPAK - Intensitas cuaca ekstrem melanda wilayah Kabupaten Pekalongan awal tahun 2026 mengakibatkan sedikitnya 52 satuan pendidikan ikut terdampak.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KAJEN – Intensitas cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Pekalongan pada awal tahun 2026 mengakibatkan lumpuhnya aktivitas pendidikan di puluhan titik. Sedikitnya 52 sekolah dilaporkan terendam banjir dan terdampak tanah longsor, yang memaksa pihak berwenang mengalihkan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi sistem dalam jaringan (daring).

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, kerusakan terjadi mulai dari jenjang PAUD hingga SMP dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Bencana yang mendominasi meliputi banjir rob di wilayah pesisir serta tanah longsor dan angin kencang di dataran tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, mengonfirmasi bahwa kebijakan belajar dari rumah diambil demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Baca Juga:Antisipasi Banjir Susulan, 14 Stasiun Pompa Sungai Bremi-Meduri Pekalongan Kini Beroperasi 24 Jam PenuhNasib Guru Honorer Batang Menggantung, PGRI Desak Gaji PPPK Dibiayai APBN Agar Daerah Tak Terbebani

“Proses belajar tetap berjalan namun dilakukan secara daring karena melihat kondisi lapangan yang ada. Keamanan siswa adalah prioritas utama kami saat ini,” ujar Kholid saat memberikan keterangan kepada media, Kamis (5/2/2026).

Tirto dan Siwalan Terendam Parah

Kecamatan Tirto dan Siwalan menjadi wilayah terdampak banjir paling signifikan. Di Kecamatan Tirto, SDN Mulyorejo melaporkan seluruh ruangan sekolah terendam air dengan ketinggian mencapai 130 cm. Kondisi serupa menimpa SMP Negeri 3 Tirto, di mana talut sekolah sepanjang 20–25 meter jebol akibat tekanan air.

Di wilayah Siwalan, sejumlah sekolah seperti SDN 01 Tengengwetan dan SDN 02 Yosorejo juga melaporkan kerusakan sarana prasarana, mulai dari lantai keramik yang pecah hingga rusaknya akses perpustakaan akibat genangan air yang tak kunjung surut.

Longsor dan Badai di Wilayah Pegunungan

Sementara itu, di wilayah dataran tinggi seperti Paninggaran dan Kandangserang, ancaman utama justru berasal dari tanah longsor dan angin kencang. Di SDN 02 Tenogo, Paninggaran, pagar sekolah dilaporkan ambrol dan dua ruang kelas mengalami kerusakan atap hingga 40 persen.

Tragedi lebih parah dialami SMP Satu Atap Gembong di Kandangserang. Fasilitas vital seperti jaringan listrik, WiFi, dan sinyal seluler lumpuh selama empat hari akibat badai dan longsor. Di tempat lain, SDN 03 Sukoharjo melaporkan atap kelas yang terbang terbawa angin, menyebabkan buku pelajaran basah kuyup dan ruangan tidak bisa digunakan.

0 Komentar