RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Pekalongan (Unikal) mengambil langkah konkret dalam menekan angka konsumsi minuman keras (miras) di kalangan generasi muda. Mereka menyelenggarakan sosialisasi khusus bertajuk “Bahaya Konsumsi Alkohol di Kalangan Remaja” bagi siswa SMK Muhammadiyah Pekalongan.
Langkah preventif ini bertujuan untuk memperkuat literasi kesehatan di tingkat pelajar. Ketua Penyelenggara, Cantika Hayu Pramesthy, mengungkapkan bahwa inisiatif ini didasari oleh keprihatinan atas maraknya informasi yang menyesatkan di media sosial mengenai gaya hidup yang melibatkan alkohol.
“Sebagian besar remaja cenderung mendapatkan informasi dari sumber yang tidak selalu akurat, seperti media sosial, budaya populer, atau pengalaman teman. Kampanye kesehatan resmi sering kali kalah saing dengan konten viral, sehingga penyuluhan langsung menjadi krusial untuk meluruskan persepsi siswa,” jelas Cantika, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga:Inspiratif! Anak Petani Wonotunggal Batang Tembus Beasiswa UGM Hingga Jadi Ketua SEMA UIN KalijagaPersiapan Haji 2026, 345 Calon Jemaah Kota Pekalongan Mulai Manasik, Wali Kota Aaf Jamin Pelayanan
Fakta Medis: Ancaman bagi Otak Remaja
Dalam paparannya, tim Unikal menyoroti data Global School-based Student Health Survey (GSHS) yang mencatat sekitar 5,1 persen siswa usia 13–17 tahun di Indonesia pernah mencicipi alkohol dalam sebulan terakhir. Meski persentasenya terlihat kecil, mahasiswa Farmasi mengingatkan bahwa dampaknya terhadap perkembangan saraf sangat fatal.
Cantika menekankan bahwa alkohol merupakan racun bagi otak remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. Konsumsi pada usia dini dapat menghambat fungsi kognitif dan kontrol emosi secara permanen.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para siswa SMK Muhammadiyah Pekalongan dapat menjadi agen perubahan yang mampu membentengi diri sendiri dan lingkungan mereka dari bahaya minuman beralkohol,” tambahnya secara lugas.
Metode Pre-test dan Post-test untuk Akurasi Edukasi
Agar materi tidak hanya menjadi angin lalu, panitia menerapkan metode evaluasi yang ketat. Para siswa diwajibkan mengikuti pre-test dan post-test guna mengukur secara objektif sejauh mana pemahaman mereka meningkat setelah mendapatkan penjelasan medis dari sudut pandang farmakologi.
Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan siswa ini diharapkan mampu memutus rantai budaya salah kaprah tentang alkohol di lingkungan sekolah. Dengan pemahaman medis yang benar, para pelajar diharapkan lebih bijak dalam menyaring informasi dari media sosial dan berani menolak ajakan yang merugikan masa depan mereka. (mal)
