RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan melaporkan bahwa ratusan warga masih tertahan di titik-titik pengungsian akibat banjir yang belum sepenuhnya surut. Hingga Senin malam, 9 Februari 2026, data menunjukkan sebanyak 464 jiwa masih sangat bergantung pada bantuan logistik di posko darurat.
Kalakhar BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyatakan bahwa pihaknya terus mengintensifkan penanganan di lapangan. Fokus utama saat ini adalah memastikan hak-hak dasar para pengungsi, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia, tetap terpenuhi di tengah situasi darurat.
“Sejak awal kejadian, kami langsung bergerak cepat melakukan evakuasi warga terdampak dan menyiapkan lokasi-lokasi pengungsian yang aman. Saat ini, fokus kami adalah memastikan kondisi pengungsi tetap terlayani, mulai dari kebutuhan logistik, kesehatan, hingga keamanan,” ujar Budi Suheryanto, Senin petang.
Baca Juga:Tawuran Bersajam Resahkan Batang, 3 Pelajar SMK Ditangkap Polisi Usai Duel Berdarah di Denasri Wetan25 Hari Terendam Banjir, Aktivitas Warga 3 Desa di Tirto Lumpuh, Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Lima Titik Pengungsian Utama
Berdasarkan pemutakhiran data BPBD, para pengungsi tersebar di lima lokasi strategis di wilayah Kota Pekalongan. Aula Kecamatan Pekalongan Barat menjadi titik dengan kepadatan tertinggi, menampung 227 jiwa dari 98 kepala keluarga.
Berikut adalah rincian persebaran pengungsi di titik lainnya:
- Aula Eks Kraton Kidul: 95 jiwa.
- Aula Kelurahan Pasirkratonkramat: 88 jiwa.
- SDN Tirto 3: 34 jiwa.
- Posko Bahurekso: 20 jiwa.
BPBD mencatat komposisi pengungsi mencakup kategori usia yang beragam, dengan perhatian khusus pada puluhan balita dan lansia yang memerlukan asupan nutrisi serta fasilitas kesehatan ekstra.
Sinergi Penanganan dan Monitoring Cuaca
Dalam menjalankan operasinya, BPBD bekerja sama secara terpadu dengan TNI, Polri, relawan, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selain mendistribusikan makanan siap saji, air bersih, dan selimut, tim medis dari Dinas Kesehatan juga disiagakan untuk memantau potensi penyakit pascabanjir.
“BPBD berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk pemantauan kondisi kesehatan pengungsi, termasuk pelayanan medis. Kami juga terus melakukan evaluasi di lapangan dan menyesuaikan langkah penanganan sesuai perkembangan situasi. Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tegas Budi secara lugas.
BPBD turut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan dampak susulan mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif. Warga diminta untuk tetap tenang, mengikuti instruksi petugas di lapangan, dan segera melaporkan jika terjadi kondisi darurat di lingkungan masing-masing. (nul)
