Dinkes Kota Pekalongan Temukan 33 Kasus Kusta, Skrining Diperketat di Wilayah Banjir dan Lingkungan Kumuh

Dinkes Kota Pekalongan Temukan 33 Kasus Kusta, Skrining Diperketat di Wilayah Banjir dan Lingkungan Kumuh
ISTIMEWA SKRINING - Dinkes terus melakukan skrining terkait kasus penyakit kusta di Kota Pekalongan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan memberikan atensi serius terhadap temuan penyakit kusta di wilayahnya. Berdasarkan hasil skrining sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 33 kasus kusta teridentifikasi dan kini tengah menjalani pengobatan intensif di bawah pengawasan ketat petugas medis.

Temuan ini menempatkan Kota Pekalongan di urutan kedua dengan jumlah kasus kusta terbanyak di Jawa Tengah. Kondisi ini memicu gerak cepat dari otoritas kesehatan untuk memperkuat sistem deteksi dini dan pemantauan pasien secara berkelanjutan guna memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti, melalui Kabid Kesmas P2P, dr. Dita Rasnasuri, menegaskan bahwa pengawasan rutin adalah kunci utama agar pasien tidak mengalami komplikasi berat.

Baca Juga:BGN Evaluasi Makan Bergizi Gratis di Pekalongan, Letjen Dadang Soroti Infrastruktur SPPG dan Sertifikasi HalPengawasan Makan Bergizi Gratis di Kendal Diperketat, BGN Minta Puskesmas Rutin Sidak Dapur Pelayanan

“Seluruh pasien yang teridentifikasi masih dalam pengobatan dan tetap kami pantau, agar tidak terjadi penularan dan komplikasi lanjutan. Deteksi dini sangat penting karena kusta yang tidak diobati dengan baik berisiko menimbulkan kecacatan permanen,” ujar dr. Dita saat dikonfirmasi, Kamis (12/2/2026).

Waspada Penularan di Lingkungan Lembab dan Becek

Dokter Dita mengingatkan masyarakat bahwa faktor lingkungan memegang peranan penting dalam penyebaran bakteri penyebab kusta. Cuaca ekstrem dan kondisi lingkungan yang kurang higienis, terutama saat musim hujan, dinilai meningkatkan risiko penularan secara signifikan.

“Pada kondisi cuaca seperti ini, penularan kusta bisa terjadi lebih cepat, khususnya di wilayah yang becek dan kotor. Lingkungan yang kurang bersih mempercepat penyebaran penyakit apabila tidak diantisipasi dengan pola hidup bersih dan sehat,” jelasnya secara lugas.

Kendala Banjir dalam Proses Skrining

Pada tahun lalu, mayoritas temuan kasus berasal dari wilayah Pekalongan Barat, salah satunya di kawasan Kramatsari. Namun, proses skrining sempat mengalami hambatan lantaran bencana banjir yang memaksa warga mengungsi dari rumah mereka.

Setelah kondisi air surut dan warga kembali ke kediaman masing-masing, petugas kesehatan kembali menyisir rumah ke rumah hingga akhirnya puluhan kasus tersebut berhasil terdeteksi.

“Kemarin sempat terkendala banjir, sehingga saat skrining dilakukan, beberapa warga tidak berada di rumah. Setelah mereka kembali, barulah bisa kami temukan. Kami harus jeli karena gejala kusta sering kali tidak mudah dikenali secara kasat mata oleh orang awam,” tambah dr. Dita.

0 Komentar