Krisis Muara Sungai Sambong Batang, Kapal Nelayan Terjebak Pendangkalan, Pengerukan Terhambat Cuaca Buruk

Krisis Muara Sungai Sambong Batang, Kapal Nelayan Terjebak Pendangkalan, Pengerukan Terhambat Cuaca Buruk
M. DHIA THUFAIL PENGERUKAN - Aktivitas Pengerukan endapan sungai dengan eskavator di Muara Sungai Sambong Batang.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Akses utama nelayan di muara Sungai Sambong, Kabupaten Batang, kini berada dalam kondisi kritis akibat pendangkalan yang kian parah. Endapan lumpur yang menumpuk membuat kapal-kapal nelayan tidak lagi leluasa keluar-masuk dermaga. Bahkan, sejumlah kapal berukuran besar terpaksa ditarik oleh tiga kapal tandu sekaligus hanya untuk bisa berangkat melaut.

Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) kini tengah berpacu dengan waktu untuk melakukan pengerukan sedimentasi. Namun, upaya tersebut kerap menemui jalan buntu akibat faktor cuaca yang tidak menentu di wilayah pesisir.

Plt Kepala Dislutkan Batang, Agung Wisnu Barata, menjelaskan bahwa proses pengerukan telah memasuki hari ke-17. Meskipun alat berat terus bekerja, volume lumpur yang kembali menutup alur sungai sangat cepat melampaui kapasitas pengerukan.

Baca Juga:Warga Bojongminggir Pekalongan Resah Warung Karaoke Berkedok Pecak Belut Diduga Jual Miras IlegalDinkes Kota Pekalongan Temukan 33 Kasus Kusta, Skrining Diperketat di Wilayah Banjir dan Lingkungan Kumuh

“Sebenarnya target kita 15 kali sudah habis terkeruk. Tapi ternyata alam seperti ini, jadi kita tambahi lagi, mungkin sekitar 25 kali pengerukan. Hari ini jalan karena kebetulan cuaca cerah dan panas,” ujar Agung Wisnu Barata saat meninjau lokasi di TPI Batang, Selasa (10/2/2026).

Persoalan Klasik Sedimentasi Berulang

Agung mengakui bahwa pengerukan yang dilakukan saat ini hanya bersifat penanganan jangka pendek. Setiap harinya, alat berat mampu mengangkat sekitar 250 meter kubik sedimen. Namun, tingginya tingkat sedimentasi di pelabuhan tradisional tersebut membuat alur yang sudah dikeruk sering kali tertutup kembali dalam waktu singkat.

“Ini memang jadi persoalan klasik. Baru dikeruk, sudah tertutup lagi. Kalau dibilang efektif ya sebenarnya tidak efektif. Kita berharap ada penambahan alat,” ungkapnya secara lugas.

Untuk mengatasi hambatan ini, Dislutkan sempat berupaya meminjam peralatan tambahan dari wilayah tetangga seperti Pekalongan. Sayangnya, daerah sekitar juga menghadapi krisis pendangkalan serupa, sehingga bantuan alat berat sulit didapatkan.

Diskresi Pengalihan ke Pelabuhan Niaga

Demi menjaga roda ekonomi nelayan agar tidak berhenti total, pemerintah mengambil langkah diskresi. Kapal-kapal nelayan yang terjebak untuk sementara dialihkan ke pelabuhan niaga milik pemerintah provinsi. Kebijakan insidentil ini diambil agar nelayan tetap bisa mendaratkan hasil tangkapan meskipun akses muara utama tersumbat.

0 Komentar