RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pondok Pesantren (Ponpes) Salaf Al Maliki Pekalongan menjadi pusat perhatian spiritual dunia dengan digelarnya Dialog Kebangsaan bertajuk Sarasehan Internasional Silaturahim Ulama, Umaro, dan Cendekiawan, Senin, 16 Februari 2026. Acara ini dihadiri oleh enam Syeikh Mursyid Thariqah Qodiriyah terkemuka yang berasal dari Irak, Swedia, dan Kurdistan.
Kehadiran para ulama besar, di antaranya Syekh Mushtaq Hailan Ketab Al Azzawi hingga Syekh Fadhil Abbas Mohammed, membawa misi penting untuk memperkuat jaringan spiritual global. Kunjungan ini merupakan instruksi langsung dari markas besar Thariqah Qodiriyah Rifa’iyah di Irak guna menjajaki pembentukan jam’iyah thariqah berskala internasional.
Pengasuh Ponpes Salaf Al Maliki Pekalongan, KH Muhammad Syaifuddin Amirin, mengungkapkan bahwa pertemuan ini menandai kepercayaan dunia internasional terhadap institusi pendidikan Islam di Indonesia.
Baca Juga:Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Sidak KITB: Awasi Pembayaran THR 2026 dan Sanksi Tegas Perusahaan BandelSMK Muhammadiyah 3 Weleri Cetak Hattrick Prestasi Nasional 2026 Unggul di Vokasi, Akademik, dan Olahraga
“Berawal dari salah satu markas Qodiriyah Rifa’iyah yang besar di dunia di Irak, mengutus beberapa mursyid dari Irak, Kurdistan, dan Swedia untuk mendatangi Pondok Pesantren Al-Maliki dan bertemu langsung dengan kami. Al Maliki ditunjuk sebagai perwakilan di Indonesia untuk memangku atau menjadi wakil Thariqah Qodiriyah Rifa’iyah secara internasional,” ujar KH Syaifuddin Amirin, Senin.
Membangun Persatuan Tarekat Skala Global
Para mursyid tersebut membawa gagasan besar untuk menyatukan berbagai aliran tarekat, khususnya Qodiriyah dan Rifa’iyah, ke dalam satu wadah organisasi internasional. Model ini serupa dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) yang sukses menghimpun berbagai tarekat di Indonesia.
KH Syaifuddin menjelaskan bahwa di Timur Tengah, kolaborasi antara pengikut Syekh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Ahmad Rifa’i sangat erat, mirip dengan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang berkembang pesat di tanah air.
“Kalau di Indonesia ada TQN, di sana ada Qadiriyah Rifa’iyah. Intinya mereka ingin semua thariqah ini memiliki satu kesatuan dalam skala besar, skala internasional. Indonesia, melalui Al Maliki, dimandatkan menjadi pusat penguatan jaringan tersebut di kawasan Asia Tenggara,” jelasnya secara lugas.
