Telur Mimi Khas Kaliwungu Jadi Primadona Jelang Ramadan 1447 H, Omzet Pedagang Kendal Naik Drastis

Telur Mimi Khas Kaliwungu Jadi Primadona Jelang Ramadan 1447 H, Omzet Pedagang Kendal Naik Drastis
ABDUL GHOFUR TELUR MINI - Jelang Ramadan, telur mimi menjadi kuliner khas Kota Santri Kaliwungu. Di tengah ramainya pasar, sajian ini tampil sebagai primadona. Dari tangan-tangan sederhana, lahir cita rasa khas pesisir yang menggugah selera, Rabu (18/2/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, geliat ekonomi dan tradisi di wilayah Kaliwungu, Kabupaten Kendal, mulai memanas. Kuliner legendaris, telur mimi, kembali menjadi buruan utama warga sebagai menu favorit untuk santap sahur maupun berbuka puasa.

Pantauan di pelataran Masjid Al Muttaqin Kaliwungu pada Rabu, 18 Februari 2026, menunjukkan kerumunan pembeli yang memadati lapak-lapak pedagang. Sajian yang berasal dari biota laut sejenis kepiting tapal kuda ini memang telah lama menjadi identitas kuliner yang tak terpisahkan dari masyarakat setempat setiap memasuki bulan puasa.

Salah seorang pedagang, Farikha (35), menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat tahun ini melonjak tajam. Ia bahkan harus menambah stok karena dagangannya ludes dalam hitungan jam.

Baca Juga:Tragedi Petani Lansia di Blado Batang Tewas Diserang Ribuan Tawon Gong, Dua Warga Ikut Terluka8 Tempat Populer untuk Berburu Takjil di Semarang

“Permintaan bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Kami buka setelah zuhur dan biasanya sudah habis sebelum magrib. Telur mimi banyak diminati karena rasanya yang khas dan cocok dikonsumsi saat sahur maupun berbuka,” ujar Farikha saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli.

Proses Tradisional dan Lonjakan Omzet

Keunikan telur mimi terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan cara-cara tradisional. Telur dibersihkan, diperas hingga kering, lalu dicampur dengan parutan kelapa berbumbu (sangrai) sebelum dibungkus daun pisang untuk dikukus dan digoreng. Aroma harum daun pisang dan rempah kelapa inilah yang menggugah selera warga.

Pedagang lainnya, Suyanto, mengaku merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Jika di hari biasa ia hanya mampu menjual maksimal 12 kilogram, kini penjualannya menembus angka 20 kilogram per hari dari sekitar 40 ekor mimi.

“Biasanya hanya 7 sampai 12 kilogram. Sekarang bisa tembus 20 kilogram. Ramadan selalu jadi momen terbaik bagi kami. Semoga tahun ini lebih baik lagi,” ungkap Suyanto dengan nada optimis.

Meskipun permintaan memuncak, para pedagang sepakat menjaga harga tetap ramah di kantong. Satu kemasan kecil dibanderol Rp5.000, sementara ukuran besar Rp10.000. Untuk paket mimi utuh lengkap dengan bumbu kelapa, pembeli cukup merogoh kocek Rp100.000.

Warisan Budaya yang Perlu Dijaga

Bagi warga Kaliwungu seperti Nur Aisyah (32), menyantap telur mimi bukan sekadar urusan perut, melainkan ritual menyambut bulan suci. “Sudah jadi tradisi keluarga. Sahur pakai telur mimi rasanya lebih semangat,” tuturnya singkat.

0 Komentar