RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pasca-keberhasilan transformasi melalui program Konsolidasi Tanah dan DAK Integrasi, Kampung Bugisan di Kota Pekalongan kini memasuki babak baru. Tantangan utama masyarakat setempat kini beralih pada aspek keberlanjutan, yakni bagaimana memelihara infrastruktur yang telah terbangun agar kawasan tersebut tidak kembali menjadi wilayah kumuh.
Kesadaran kolektif menjadi kunci utama. Para pengurus lingkungan di Bugisan kini gencar melakukan edukasi lintas generasi, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak, untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Langkah preventif ini krusial demi menjaga kinerja sistem drainase dan keandalan mesin pompa air yang menjadi andalan utama saat musim hujan tiba.
Ketua RT 04 Bugisan, Rukyatno, menegaskan bahwa keberadaan mesin pompa air merupakan infrastruktur vital yang nasibnya sangat bergantung pada perilaku masyarakat terhadap lingkungan.
Baca Juga:Geger Lansia 76 Tahun di Bandar Batang Ditemukan Meninggal dengan Jeratan Tali, Polisi Buka SuaraWali Kota Pekalongan Soroti Balap Liar dan Petasan Selama Ramadan, Warga Diminta Lapor Gangguan Kamtibmas
“Mesin pompa ini adalah benteng utama kampung kami. Kalau saluran tersumbat sampah dan pompa mengalami kerusakan, maka kawasan ini berisiko kembali terendam banjir. Karena itu, edukasi kepada warga menjadi kunci agar infrastruktur yang ada tidak sia-sia,” ujar Rukyatno, Jumat (20/2/2026).
Inovasi Pengelolaan Sampah Mandiri
Guna menekan risiko penyumbatan drainase, Kampung Bugisan kini mengadopsi sistem pengelolaan sampah secara mandiri melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Melalui fasilitas ini, warga didorong untuk memilah sampah sejak dari sumbernya (rumah tangga), sehingga meminimalkan volume sampah yang berpotensi masuk ke saluran air.
Transformasi Bugisan yang kini lebih tertata dan bersih telah mengubah stigma negatif masyarakat luar terhadap kawasan ini. Sinergi antara intervensi pemerintah dan partisipasi aktif warga terbukti mampu menghapus status kawasan kumuh yang selama ini melekat.
“Kami bersyukur Kampung Bugisan tidak lagi dipandang sebelah mata. Perubahan wajah kampung yang lebih tertata dan bersih menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menata lingkungan,” tambahnya.
Inspirasi untuk Kawasan Lain
Kesuksesan di Kampung Bugisan diharapkan tidak berhenti di sini. Rukyatno dan warga lainnya berharap pola penataan dan pemeliharaan lingkungan yang serupa dapat segera diadopsi oleh wilayah rawan banjir lainnya di Pekalongan, seperti kawasan Bremi dan Meduri.
