MAN IC Pekalongan Luncurkan KomProMi, Ubah Sampah Jadi Kompos Tanpa Bau Menuju Green Campus Mandiri

MAN IC Pekalongan Luncurkan KomProMi: Ubah Sampah Jadi Kompos Tanpa Bau Menuju Green Campus Mandiri
MALEKHA TUNJUKKAN - Demo alat KomProMi yang disampaikan oleh Mizan siswa MAN IC Pekalongan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Pekalongan melakukan langkah progresif dalam pelestarian lingkungan di lingkup pendidikan. Melalui tangan kreatif para siswanya, sekolah unggulan ini meluncurkan program inovatif bertajuk KomProMi atau Komposting Projek Mizan.

Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas persoalan limbah makanan di lingkungan madrasah. Dengan mengadopsi metode Bokashi Composting, para siswa berhasil menyulap sisa konsumsi harian menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi tanpa perlu khawatir dengan aroma tidak sedap.

Teknis pengolahan KomProMi dilakukan melalui proses fermentasi anaerobik yang sangat efisien. Keunggulan utamanya terletak pada durasi pengolahan yang singkat, yakni hanya memakan waktu 10 hingga 14 hari, serta sifatnya yang higienis tanpa menimbulkan emisi gas berbahaya.

Baca Juga:Balon Udara Meledak Sebelum Terbang di Pekalongan, Empat Remaja Terluka Parah Kena Ledakan Petasan MautTragis! Bocah 3 Tahun di Kajen Pekalongan Tewas Terseret Arus Selokan Saat Bermain Hujan-hujanan

Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan yang dilakukan anak didiknya tersebut. Menurutnya, KomProMi merupakan perpaduan antara kecerdasan akademik dan kepekaan sosial terhadap keberlanjutan bumi.

“Program KomProMi ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan wujud nyata kepedulian siswa terhadap bumi. Dengan metode yang higienis dan tanpa bau, kami berharap ini bisa menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat diterapkan secara lebih luas,” ujar Khoirul Anam, Senin (23/2/2026).

Menuju Siklus Manfaat di Ekosistem Madrasah

Melalui implementasi KomProMi, MAN IC Pekalongan berhasil menekan volume sampah harian secara signifikan. Hasil dari pengolahan limbah tersebut kini dimanfaatkan kembali untuk mendukung program penghijauan dan urban farming di dalam area kampus.

Metode Bokashi yang diterapkan dinilai sangat cocok untuk lingkungan pendidikan karena tidak mengganggu kenyamanan belajar mengajar. Pupuk yang dihasilkan juga siap pakai untuk menyuburkan berbagai tanaman hias maupun sayuran di lahan sekolah.

Inisiatif ini sekaligus mempertegas komitmen MAN IC Pekalongan dalam mengejar target Green Campus yang mandiri dan lestari. Dengan pengelolaan sampah yang tuntas di hulu, madrasah ini menciptakan siklus manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh ekosistem sekolah.

“Kami ingin edukasi lingkungan ini menjadi aksi nyata. Sisa makanan yang semula hanya menjadi limbah, kini disulap menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi yang siap mendukung program penghijauan,” pungkasnya. (mal)

0 Komentar