Dinkes Pekalongan Sidak Takjil Ramadan 2026, Waspada Kandungan Boraks dan Formalin pada Jajanan Buka

Dinkes Pekalongan Sidak Takjil Ramadan 2026, Waspada Kandungan Boraks dan Formalin pada Jajanan Buka
ISTIMEWA SIDAK - Dinkes bersama Puskesmas melakukan sidak terhadap jajanan takjil Ramadan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan bersama 14 Puskesmas di wilayah setempat memperketat pengawasan terhadap peredaran jajanan buka puasa atau takjil. Selama tiga hari, mulai 23 hingga 24 Februari 2026, tim gabungan diterjunkan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna mendeteksi kandungan bahan kimia berbahaya pada makanan yang dijual pedagang musiman.

Langkah preventif ini diambil menyusul temuan pada tahun-tahun sebelumnya yang menunjukkan masih adanya oknum pedagang nakal. Pengawasan difokuskan pada titik-titik keramaian di empat kecamatan guna memastikan takjil yang dikonsumsi masyarakat bebas dari zat beracun yang dapat merusak kesehatan.

Sanitarian Muda Dinkes Kota Pekalongan, Maysaroh, menegaskan bahwa akumulasi bahan kimia berbahaya dalam tubuh dapat memicu risiko gangguan kesehatan serius dalam jangka panjang jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Baca Juga:Pasien BPJS Ditolak, DPRD Kendal Panggil Dinkes dan BPJS Kesehatan Terkait Sengkarut Kuota Rujukan3 Spot Wisata instagramable di Pemalang Yang Ramai di Kunjungi Saat Libur Lebaran

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengawasi jajanan atau panganan yang beredar di masyarakat. Karena dari hasil pengawasan sebelumnya, masih ditemukan adanya bahan kimia berbahaya pada sejumlah produk. Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil namun sering dan tanpa disadari, tentu akan menimbulkan risiko terhadap kesehatan,” ujar Maysaroh saat ditemui di sela kegiatan sidak, Selasa (24/2/2026).

Target Empat Zat Berbahaya

Dalam sidak kali ini, Dinkes membidik empat jenis bahan tambahan pangan terlarang yang sering disalahgunakan, yakni Formalin, Boraks, Rhodamin B (pewarna merah), dan Methanil Yellow (pewarna kuning). Petugas secara jeli mengambil sampel makanan yang memiliki ciri fisik mencurigakan di lapangan.

May merinci, formalin kerap ditemukan pada mi basah dan tahu agar tidak mudah basi dan lebih tahan lama. Sementara boraks sering disalahgunakan pada bakso dan sempolan untuk menciptakan tekstur yang lebih kenyal dan padat. Adapun pewarna tekstil biasanya terdeteksi pada jajanan dengan warna yang mencolok namun tidak merata.

“Kita mengambil sampel dari panganan yang dicurigai mengandung empat bahan tersebut. Misalnya mie basah dan tahu untuk formalin, bakso dan sempolan untuk boraks, serta jajanan berwarna mencolok untuk pewarna berbahaya,” jelasnya lebih lanjut.

Sanksi dan Penelusuran hingga Produsen

Setiap Puskesmas ditargetkan mengumpulkan sedikitnya 50 sampel untuk diuji cepat menggunakan rapid test kit di lokasi. Jika ditemukan indikasi positif, sampel akan segera dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk uji konfirmasi akhir.

0 Komentar