Pesantren Ramadan SMA NU 05 Brangsong Kendal, Siswa Dalami Kitab Kuning untuk Penguatan Karakter

Pesantren Ramadan SMA NU 05 Brangsong Kendal, Siswa Dalami Kitab Kuning untuk Penguatan Karakter
ABDUL GHOFUR KAJI KITAB KUNING - Siswa-siswi SMA NU O5 Brangsong, Kendal mengkaji kitab Hikayatul Ramadan, Kamis (26/2/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – SMA NU 05 Brangsong, Kabupaten Kendal, memanfaatkan momentum bulan suci 1447 Hijriah dengan menggelar Pesantren Ramadan selama lima hari, 23–27 Februari 2026. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan spiritualitas dan pembentukan karakter siswa melalui kajian kitab klasik atau yang akrab disebut kitab kuning.

Selama hampir sepekan, para siswa diajak mendalami kitab Hikayatul Ramadhan di bawah bimbingan Ustaz Mujahidin. Program ini dirancang untuk menghidupkan suasana religius di lingkungan sekolah sekaligus memberikan pemahaman mendalam mengenai esensi ibadah puasa di luar aspek formalitas semata.

Kepala SMA NU 05 Brangsong, Ana Khoirul Umami, menegaskan bahwa pesantren kilat ini merupakan instrumen penting dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia dan disiplin.

Baca Juga:Asah Kreativitas Siswa, SD Kuripan Lor 02 Pekalongan Siap Gelar Pelatihan Jurnalistik Sejak DiniTim Wasev Mabes TNI Cek TMMD Desa Gedong Kendal, Progres Fisik Melampaui Target dan Siap Rampung 11 Maret

“Pesantren Ramadan berharap siswa tidak hanya menjalankan puasa sebagai kewajiban, tetapi juga memahami hikmah dan keutamaannya. Melalui kajian kitab ini, kami ingin membangun kesadaran spiritual yang lebih kuat,” ujar Ana Khoirul Umami saat memberikan keterangan, Kamis (26/2/2026).

Metode Kajian Berbasis Pesantren

Meskipun dilaksanakan di lingkungan sekolah, nuansa pesantren kental terasa dalam pelaksanaannya. Setiap hari, kegiatan dimulai pukul 11.30 WIB dengan metode pembacaan terpusat dari kantor sekolah yang disiarkan ke setiap kelas melalui pengeras suara. Para siswa menyimak dengan saksama didampingi oleh wali kelas masing-masing.

Penggunaan kitab Hikayatul Ramadhan menjadi daya tarik tersendiri karena memuat kisah-kisah inspiratif mengenai keutamaan salat tarawih, malam Lailatul Qadar, serta teladan para wali dalam memuliakan bulan suci. Materi ini lazim digunakan di pondok pesantren untuk membangkitkan motivasi ibadah para santri.

Ustaz Mujahidin, selaku pengampu kajian, menyebut bahwa momentum ini sangat tepat untuk mengajak siswa memperbaiki diri secara totalitas.

“Kami mengajak siswa merasakan keindahan Ramadan dan memanfaatkannya sebagai momentum memperbaiki diri, membangkitkan semangat berpuasa, menjaga salat tarawih, serta menghidupkan malam-malam Ramadan,” jelas Ustaz Mujahidin.

Membangun Kedisiplinan Siswa

Selain aspek kognitif agama, program ini juga menekankan pada kedisiplinan. Siswa diwajibkan membawa perlengkapan salat, buku amaliyah khasanah, serta alat tulis untuk mencatat setiap poin penting dari kajian. Rangkaian kegiatan ditutup dengan salat zuhur berjamaah sebagai bentuk pembiasaan ibadah tepat waktu.

0 Komentar