RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Upaya menekan angka pernikahan usia dini terus digencarkan di lingkungan pendidikan. Kali ini, MAN 2 Kota Pekalongan mengambil langkah progresif dengan menggandeng Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Pekalongan melalui program bertajuk “Ramadan Sakinah”. Kegiatan ini bertujuan membentengi siswa dari risiko pernikahan prematur yang kerap berdampak negatif pada masa depan remaja.
Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif bahwa membangun rumah tangga membutuhkan kematangan yang multidimensi, mulai dari aspek psikologis, pendidikan, hingga kesiapan ekonomi. Para siswa diajak untuk melihat masa depan dengan perencanaan yang lebih matang ketimbang sekadar mengikuti dorongan emosional sesaat.
Kepala MAN 2 Kota Pekalongan, Jaeri, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif BP4 yang turun langsung ke sekolah. Ia menilai materi pencegahan pernikahan dini adalah asupan literasi yang sangat dibutuhkan oleh para siswa di tengah gempuran arus informasi dan pergaulan masa kini.
Baca Juga:Bupati Pekalongan Terjaring OTT KPK di Semarang, Ruang Kerja hingga Salon Pribadi Disegel PenyidikTimur Tengah Memanas, Keberangkatan Jemaah Umrah asal Batang Ditunda demi Keselamatan dan Keamanan
“Kami sangat mengapresiasi program Ramadan Sakinah ini. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan antusias dan serius. Materi pencegahan pernikahan dini sangat relevan bagi mereka yang sedang mempersiapkan masa depan,” ujar Jaeri saat mendampingi jalannya kegiatan, Rabu (4/3/2026).
Fase Kritis Pencarian Jati Diri
Fasilitator BP4 Kota Pekalongan, Siti Nurkayisah, menjelaskan bahwa pelajar tingkat SMA dan Madrasah Aliyah merupakan kelompok usia yang berada dalam fase paling kritis, yakni pencarian identitas diri. Pada tahap ini, mereka sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk risiko pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba yang sering kali menjadi pemicu terjadinya pernikahan di bawah umur.
Siti menekankan bahwa edukasi ini tidak hanya bicara soal larangan, tetapi lebih kepada pemberdayaan logika remaja untuk memprioritaskan cita-cita.
“Remaja usia SMA dan MA ini sedang mencari identitas diri. Mereka perlu dibekali pemahaman kuat tentang perencanaan masa depan dan kesiapan berumah tangga. Pernikahan bukan sekadar urusan usia, melainkan kesiapan mental, pendidikan, hingga ekonomi,” tegas Siti.
Membangun Generasi Sakinah
Melalui Ramadan Sakinah, para siswa didorong untuk fokus menyelesaikan jenjang pendidikan setinggi mungkin. BP4 mengingatkan bahwa pernikahan dini memiliki kaitan erat dengan peningkatan angka kemiskinan dan masalah kesehatan reproduksi di kemudian hari.
